25th lalu hingga 25th lagi…..
29/05/2010
Umur yang disandang manusia memang hanya sementara. Hidup di dunia ibarat orang yang tengah istirahat sejenak…. untuk kemudian meneruskan perjalanan berikutnya. Tapi pada kenyataannya kita sering merasa terkadang hidup ini terasa lama sekali dan melelahkan terutama disaat merasa sempit, sulit dan mngharap sesuatu yang tak kunjung terwujud….di saat lain merasa hidup demikian singkat, terutama disaat kita merasa lapang, bahagia dan segala yang jadi harapan terbentang dihadapan….
Lantas apa hubungannya dengan judul diatas?….ini berhubungan dengan perjalanan cinta seseorang yang seolah tidak lekang oleh waktu. Ada pepatah bahwa cinta tidak harus memiliki….Itulah yang terjadi pada seseorang ini.
25 th lalu, saat dia menjalin tali kasih dengan kekasih pertamanya , waktu bergulir demikian cepat tak terasa hingga akhirnya mereka dipisahkan oleh keadaan dan juga oleh waktu.
Kisah cinta mereka terpenggal begitu saja.
Kesan indah dan manis yang tertinggal menjadi kenangan yang tak terhapuskan. Jika mereka tidak saling memiliki dan terikat dalam suatu pernikahan, itu merupakan takdirnya. Tapi cinta yang tertinggal bersemayam dalam dada seolah menembus takdir meski tak berwujud di sepanjang 25 th ini.
Hanya doa-doa tersamarkan takdir yang bergema dalam hati di sepanjang seperempat abad ini. Namun dia selalu berusaha menghapus doa-doa pada kekasihnya ini demi memelihara kesetiaannya pada suami. Bagaimanapun juga, dirinya merasa berdosa jika masih tetap ‘memelihara’ kenangan cinta masa lalunya itu. Dan menutup rapat-rapat kata hatinya selama itu. Bahkan berusaha mematikannya.
Namun keadaan kini telah berubah….Apakah suatu hal yang naif jika dia tetap setia pada suami yang akhirnya menghianatinya ? Sungguhpun betapa hancur perasaannya, dia berusaha menjaga kesetiaannya. Bahkan dia takut jika cinta lama itu muncul kembali, hanya serupa fatamorgana di padang rumput hatinya yang tengah tandus. Hal ini terkait dengan mimpi-mimpi dlm tidurnya yang senantiasa mempertemukan dirinya dg kekasihnya, mengarungi waktu ke masa lalu seakan segalanya tengah berlangsung….
Lantas kekuatan seperti apa yang dia upayakan untuk terhindar dari fatamorgana itu? sedangkan dia tahu bahwa suaminya kini sudah larut ke dalam fatamorgananya sendiri, mengingkari janji setia dan komitmen pernikahannya. Kekuatan macam apa yang menjadi tumpuannya saat ini? Apakah karena cinta pada suaminya? ataukah karena Lillahi Ta’ala? Yang dia yakini karena Allah saja, jika hingga saat ini dia berusaha bersetia pada suaminya….namun disadari atau tdk, di lubuk hati terdalamnya cinta pada suaminya mulai luntur seiring dengan luka hatinya yang kian tersayat oleh sikap suami yang sama sekali tidak mentolelir keberadaan perasaannya.
Hati manusia sangatlah rentan dan lembek….itu yang dirasakannya, pada akhirnya. Doa-doa lama yang pernah berkumandang di masa lalu lamat-lamat bergema kembali, seolah mampu menepis doa-doa peneguh kesetiaannya pada sang suami.
Akhirnya dia menyanggupi bertemu dengan kekasih yg sdh lama ingin menemuinya….Saat itu dipenghujung jalan, menjelang senja. Apa yang dirasakannya?….sekalipun telah seperempat abad cintanya ditutup rapat, namun begitu bertemu seolah tiada bedanya….seperti dulu saja. Pertemuan di pusat keramaian itu terasa sangat singkat. Cerita yang terucap mengalir lepas begitu saja sambung menyambung seolah tanpa jeda. Orang-orang yg ada dan berseliweran disekitar mereka seolah tak ada. Serasa hanya mereka berdua saja di dunia ini. Menumpahkan rasa rindu yang tiada bertepi melalui cerita dan senyum yg mengembang, seolah tak ingin sedetikpun berlalu tanpa senyum kebahagiaan..serasa berjuta kupu-kupu beterbangan dan berjuta bunga bermekaran mewangi disekitar mereka. Suatu pertemuan yg sulit terlukiskan kebahagiaannya..
Tapi waktu segera memisahkan mereka. Hanya sekitar 3 jam saja mereka berjalan bersama disepanjang keramaian dan serasa sejenak saja duduk di tempat makan. Hanya itu saja. Pertemuan singkat pelepas rasa rindu dan kepenasaranan saja setelah sekian lama. Tak lebih. Tapi baginya ini seperti sebuah perselingkuhan yg amat sangat terlarang!
Tak diragukan lagi, kehadiran kekasih, meskipun hanya sesaat mampu membangkitkan gelora cinta lama yg trpendam waktu dan keadaan….
Namun tetap saja dia harus kembali pada kesehariannya sepeti biasa, mengarungi bahtera rumah tangga yang tengah berpolemik.
Dia setia pada suami karena patuh pada takdir Illahi, namun kini dia mencintai kekasihnya krn mengkuti kata hatinya yg merasa
terhempas sendirian.
Sekalipun 25th lagi dari sekarang, cinta pada kekasih akan tetap sama seperti 25 th lalu, cinta yg tak mungkin berwujud pada kebersamaan fisik yg saling memiliki.
Namun cinta spt ini ibarat api dlm sekam, menyimpan geloranya yg tak prnh padam.
Apalah artinya saat 25 th lalu, juga saat 25th mendatang…yg terpenting adalah saat ini. Saat ini yang dia jalani. Hidup bagai aneka gambar yang bisa berubah menurut ceritanya, tapi jangn sampai menodai nilainya.
Buatlah suatu Dream…suatu kebahagiaan hidup hakiki yang hendak di capai dan wujudkan…selebihnya serahkan kepada Allah saja.
Hidup ini singkat, nikmati, syukuri dan jalani saja. Jika cinta sejati itu tersambut dengan sang suami, tentu dimudahkan-Nya segala urusan dlm rmh tangganya hingga akhir nanti. Tapi sebaliknya, jika cinta sejatinya itu tersambut dg kekasih lamanya, tentu Allahpun akan memberikan sebaik-baik jalan yang elegan bagi kebersamaan mereka hingga akhir nanti.Wallohualam.
saat kepala dan dada serasa jenuh
23/05/2010
Adakalanya kita merasa dunia ini seolah penuh sesak, begitu bising dan beragam masalah kehidupan serasa menghimpit. Baik fikiran maupun perasaan terasa penuh dan jenuh. Apa yang harus kita lakukan ditengah himpitan ini? Ya……..Kita sebaiknya bersimpuh dan bersujud….bahkan mengadu hanya kepada Nya saja. Dialah yang menguasai segala urusan seluruh para mahluk, tak terkecuali kita sbagai mahluk manusia yang tiada daya uapaya ini. Meskipun kita mengetahui begitu banyak fakta bahwa manusia dijaman ini telah mampu memanfaatkan hampir seluruh alam di dunia ini, dengan cara mengekploitasi dan menguasainya dengan kecanggihan teknologi yang dianggap semakin maju dan modern…….tetapi tetap saja manusia hanya sekecil serpihan debu di alam ini yang tiada berdaya upaya….pada akhirnya, terutama disaat mengalami berbagai musibah.
Tak ada cara lain, disaat jiwa dan raga serasa sarat oleh dampak urusan duniawi ini…jalan terbaik hanyalah menstabilisasikannya dengan kembali kepada Allah saja. Sekalipun secara logika kita akan mampu merefresing diri dengan berwisata ke alam yang asri dengan pemandangan yang indah-indah lagi segar sejuk udaranya, atau bahkan mungkin menghibur diri melupakan sejenak urusan rutinitas hidup dengan pergi klabing, berbelanja ke mal-mal atau berkumpul bersenda gurau dengan orang-orang tersayang….tetap saja kita membutuhkan tempat yang lebih nyaman secara hakiki, melebihi kenyamanan fasilitas duniawi.
Mendekatkan diri kepada Nya, baik disaat sedang suka maupun duka, sedang lapang ataupun sedang merasa sumpek fikiran dan perasaan….adalah kebutuhan fitrah manusia terhadap sang khaliqnya. Semoga kita tergolong orang-orang yang selalu mengingat dan mendekatkan diri pada Nya agar selalu berada pada arah jalan-Nya yang lurus……….♥
LalangseHate
musim pun berganti 2
12/03/2010
Tahun demi tahun berlalu, musimpun silih berganti puluhan kali, berbagai peristiwa datang dan pergi meninggalkan jejak kenangan. Eroh entah berada dimana, namun sekelumit kenangan ceritanya jadi begitu terasa saat ini.
Kini aku tinggal di sebuah kampung yang ku kira sedikit banyak mirip dengan kampung Eroh, yang pernah mengendap dalam ingatan dan menjadi imajinasiku. Hanya saja disini tak ada sungai lebar berbatu besar-besar berair gunung yang jernih. Tapi setidaknya di sekitar rumahku banyak pepohonan rindang, perbukitan landai, ladang singkong, tegalan alang-alang dan tiga danau kecil/setu berair jernih. Dan yang paling aku suka, disepanjang jalan menuju kampungku berderet pohon pinus yang tumbuh subur menjulang tinggi. Bagiku ini sudah mewakili perwujudan kampung angan-angan kecilku dahulu….
Tentang supa…seandainya aku mencari-cari mungkin akan ku temukan juga berbagai macam supa disini. Tapi tentu saja tak terpikir untuk menemukannya saat ini, selain hanya merasa terhanyut oleh memori tentang cerita supa Eroh saja.
Tentang ‘beos’…nama tempat yang disebut Eroh, tempat yang akan menjadi tujuannya waktu itu…tak lain, adalah stasiun kota Jakarta. Selama tinggal disini sebetulnya aku sering ke beos. Stasiun itu ku tempuh sekali jalan naik kereta api listrik. Tetapi meskipun sering, selama ini tak pernah terlintas dalam pikiranku tentang Eroh di beos, apalagi mencarinya. Tujuanku ke beos adalah berbelanja pernak pernik bahan untuk membuat boneka dan mainan, yang banyak di jual di grosir grosir tak jauh dari stasiun.
Disaat inilah, saat menyadari musim hujan akan berakhir…entah kenapa aku jadi teringat Eroh dan beos. Kenangan ceritanya begitu saja muncul dalam fikiran dan benakku…seolah menyeruak diantara berbagai kenangan yang telah lama mengendap dan nyaris terlupakan.
Waktu itu, belum tentu Eroh benar-benar di bawa ke Jakarta untuk membantu bibinya berjualan makanan di beos, bisa jadi dugaan nenek ku benar, Eroh di nikahkan dan tinggal di kampungnya. Dimanapun Eroh berada kini, suatu yang tidak mungkin ku temukan seandainya aku ingin mencarinya…karena rasa rinduku padanya saat ini. Sekalipun Tuhan memepertemukan kami secara tak terduga…tentu saja guratan dan pahatan usia telah menghapus sosok dan wajah masa kanak-kanak kami dalam ingatan, sehingga kemungkinan besar kami tidak akan saling mengenali.
Beberapa hari terakhir ini sudah jarang hujan turun, dan tidak selebat sebelumnya. Langit lebih cerah karena matahari tak melulu tertutup mendung. Deretan gunung tampak jelas biru kehijauan, melatar belakangi perkampungan, perbukitan, rimbunan pepohonan dan danau.
Mendengar berita…bahwa musim kemarau kali ini akan lebih cepat datang dan lama. akibat pemanasan global memang sudah mulai terasa di seluruh muka bumi. Pola cuaca tak semenentu dulu-dulu. Bahkan di berbagai tempat terjadi perubahan suhu yang cukup ekstrim dari dingin ke panas, begitu juga dengan curah hujan. Menurut para ahlinya, ini lebih disebabkan karena kadar polusi yang sudah melampaui batas serta semakin berkurangnya kawasan hijau.
Kampung ini hanyalah sebagian kecil dari kawasan hijau yang tersisa di pinggiran megapolitan Jakarta. Keberadaannya semakin terdesak perkembangan kota. Sisa-sisa perkebunan karet yang dulu pernah ada sudah tak terlihat lagi. Berbagai perkebunan tanaman keras lainnya dibabat dijadikan perumahan berbagai pengembang. Bahkan bagian pinggiran danau yang dangkal
pun
perlahan namun pasti diurug demi kepentingan pengembang tersebut. Sedianya ketiga danau ini adalah penampung air dikala musim hujan. Tak mengherankan jika setiap tahunnya banjir kiriman semakin meningkat melanda kota Jakarta.
Entah sampai kapan kampung yang sudah menjadi bagian hidupku ini mampu mempertahankan diri dari expansi pengembangan kota.
Sebentar lagi musim kemarau….meskipun matahari esok-esok hari berikutnya akan terasa lebih terik dan suhu udara memanas…namun pepohonan rindang di sekeliling rumahku akan senantiasa menjadi peneduh. Setidaknya hingga selama ini. Semoga selamanya…dari tahun ke tahun…musim ke musim…dan dari berbagai peristiwa, yang akan datang dan akan pergi…
musim pun berganti
27/02/2010

Bulan-bulan terakhir ini hampir setiap hari hujan turun. Seringkali hujan disertai angin sangat kencang dan petir menyambar-nyambar. Gelegarnya seakan merobek angkasa, kilatannya menghujam bumi, melecut apapun yang merintangi. Selama musim hujan ini, tanah yang semula kering retak-retak telah berubah menjadi tegalan rumput dan perdu, becek dan berlumpur. Deretan pepohonan pinus menuju perkampungan semakin lebat dan tinggi. Begitu juga pepohonan sengon, melinjo, rambutan dan berbagai pohon buah-buahan semakin rimbun. Tanaman singkong yang menutupi sebagian besar perbukitanpun nampak kian menghijau subur. Udara terasa lembab karena langit senantiasa tertutup awan mendung.
Aku…tiba-tiba jadi teringat Maesaroh, gadis kecil yang kulitnya hitam namun bergigi putih agak tonggos. Berpuluh tahun lalu….Dia di bawa dari kampung salah seorang pelayan yang menemani nenek berjualan di pasar. Dari sebuah kampung nun jauh di ‘pakidulan’. Dia di bawa ke rumahku untuk menemaniku mengasuh ketiga adikku yang masih balita dan membantu pekerjaan ibuku
di rumah.
Eroh (panggilanku untuknya) seringkali bercerita tentang kampungnya….Apabila musim hujan, pagi-pagi sekali dia selalu pergi ke tepi hutan bersama adik-adiknya untuk mencari supa (jamur). Berbagai macam supa akan dia temukan dan memungutnya untuk dimasak sebagai lauk pauk. Supa-supa tersebut dengan mudah ia temukan di bawah rindangnya pepohonan besar tepi hutan maupun di kebun-kebun. Supa bulan biasanya tumbuh di tanah merah, supa lember di kayu dan bambu yang sudah lapuk, supa rampak dia ambil dari gedebog batang pisang yang sudah mati, sedangkan supa beas di tumpukan batang pohon singkong yang sudah di panen.
Menurutnya jamur-jamur itu lebih enak daripada daging ayam, terutama supa bulan yang bertudung payung sebesar mangkok bakso dan supa beas yang kecil-kecil pipih sebesar kulit kerang. Jamur-jamur ini biasanya di tumis atau di sayur bening. Dia bercerita lengkap dengan penuturan cita rasanya yang dikatakannya sungguh lezat, membuatku penasaran ingin sekali merasakannya.
Cerita itu dan berbagai cerita lainnya dia tuturkan disaat menjelang kami tidur. Dia tidur disamping tempat tidurku, beralaskan tikar dan kasur kapuk yang di gelar ketika dia hendak tidur saja. Maklum rumah orang tuaku kecil, hanya ada dua kamar tidur. Kamarku dengan tempat tidur berdua adikkupun kecil. Semua ceritanya mampu kubayangkan sesuai imajinasiku. Aku serasa masuk kedalam alur setiap ceritanya yang penuturannya sederhana namun menyenangkan dan mudah ku cerna. Tak jarang kami dan adikku yang juga ikut mendengarkan tertawa-tawa jika ceritanya terasa konyol dan menggelikan.
Aku membayangkan alangkah menyenangkan hidup di desanya. Sebuah desa terpencil yang dia sebut kampung bojong asih. Terbayang hutan-hutannya tempat dia mencari kayu bakar, pucuk pakis, buah petai yang sudah jatuh dan jamur. Juga kebun-kebunnya, pohon buah-buahan liar yang bisa dipetiknya kapapun dia mau dan sungainya yang berbatu besar-besar berair dingin serta jernih tempat dia berenang sesukanya. Tidak seperti dipemukiman tempat tinggalku saat itu. Sebuah pemukiman padat yang dibatasi berbagai gang kecil. Hampir tak ada halaman tempat bermain selain pekarangan rumah orang di pinggir jalan. Pepohonan yang bisa aku naikipun sangat jarang, itupun hanya pohon jambu biji tetangga yang lumayan pelit dan galaknya terhadap anak-anak sebaya aku, karena anak-anak memang suka iseng-iseng mencurinya. Apalagi sungai berair jernih yang bisa dijadikan tempat berenang, suasana dikampung Eroh tak ada ditempatku.
Kecuali, diseberang belakang pemukiman tempatku tinggal, masih ada hamparan pesawahan yang yang cukup luas, di aliri sebuah sungai irigasi yang cukup lebar. Namun melihat pertumbuhan kota yang terjadi saat itu, areal pesawahan mulai terdesak pemukiman. Air sungai irigasipun sudah lama terpolusi limbah berbagai pabrik, terutama pabrik tenun dan pencelupan yang banyak terdapat di sepanjang jalan depan pemukiman tempat tinggalku. Cerita Eroh saat itu mewakili kerinduanku akan sebuah kampung asri yang tidak aku rasakan apalagi memiliki…
Maesaroh tinggal bersamaku hanya sekitar dua tahunan. Ketika aku masuk kelas dua esempe dia diambil bapaknya, akan di bawa ke Jakarta. Eroh bilang kepadaku, bahwa dia akan menemani bibinya berjualan makanan di ‘beos’. Tapi menurut nenekku, itu hanya alasan bapaknya, padahal kemungkinan besar dia akan dikawinkan dengan lelaki pilihan orang tuannya di kampung. Entahlah mana yang benar. Yang jelas aku merasa kehilangan Eroh yang pintar bercerita itu.
bersambung……
Seringkali kita berputus asa tatkala kesulitan atau mengalami cobaan. Padahal Allah telah memberi janji bahwa di balik kesulitan pasti ada jalan keluar yang begitu dekat.
Dalam Surat Asy-Syarh (Surat Alam Nasyroh), Allah Ta’ala berfirman :
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS: Asy-Syarh: 5).
Ayat inipun di ulang setelah itu :
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”(QS: Asy Syarh: 6).
Mengenai ayat di atas, ada beberapa faedah yang bisa kita ambil :
Pertama :
Dibalik Satu Kesulitan, Ada Dua Kemudahan.
Kata “al ‘usr (kesulitan) yang di ulang dalam Surat Alam Nasyroh hanyalah satu. Al ‘usr dalam ayat pertama sebenarnya sama dengan al ‘usr dalam ayat berikutnya, karena keduanya menggunakan isim ma’rifah (seperti kata yang diawali Alif lam). Sebagai kaedah dalam Bhs Arab, “jika isim ma’rifah di ulang, maka kata yang kedua sama dengan kata yang pertama, terserah apakah isim ma’rifah tersebut menggunakan Alif lam jinsi ataukah Alif lam ‘ahdiyah.”
Intinya al ‘usr (kesulitan) pada ayat pertama sama dengan al ‘usr (kesulitan) pada ayat kedua.
Sedangkan kata “yusro (kemudahan)” dalam surat itu ada dua. Yusro (kemudahan) pertama berbeda dengan yusro (kemudahan) kedua, karena keduanya menggunakan isim nakiroh (seperti kata yang tidak diawali Alif lam). Sebagaimana kaedah Bhs Arab, “secara umum, jika isim nakiroh itu di ulang, maka kata kedua berbeda dengan kata yang pertama.”
Dengan demikian, kemudahan itu ada dua karena berulang (1). Ini berarti ada satu kesulitan dan ada dua kemudahan.
Dari sini, para ulamapun sering kali mengatakan: “Satu kesulitan tak akan pernah mengalahkan dua kemudahan.” Asal perkataan ini dari hadits yang lemah namun maknanya benar (2).
Jadi di balik kesulitan ada dua kemudahan.
Catatan :
Mungkin sebagian orang yang belum pernah mempelajari Bhs Arab kurang faham dengan istilah di atas. Namun itulah keunggulan orang yang faham Bhs Arab. Dalam memahami ayat akan berbeda dengan orang yang tidak memahaminya. Oleh karena itu, setiap muslim hendaklah membekali diri dengan ilmu alat ini. Diantara manfaatnya seseorang akan memahami Al Qur’an lebih mudah dan pemahamannyapun begitu berbeda dengan orang yang tidak memahami Bhs Arab. Semoga Allah memberi kemudahan.
Ke Dua :
Akhir Berbagai Kesulitan Adalah Kemudahan.
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as Sa’di mengatakan: “Kata al usr (kesulitan) menggunakan alif lam dan menunjukan umum (istigroq), yaitu segala macam kesulitan. Hal ini menunjukan bahwa bagaimanapun sulitnya, akhir dari setiap kesulitan adalah kemudahan.” (3)
Dari sini, kita dapat mengambil pelajaran, “badai pasti berlalu (after a storm comes a calm), yaitu setelah ada kesulitan pasti ada jalan keluar.”
Ke Tiga :
Di Balik Kesulitan, Ada Kemudahan Yang Begitu Dekat.
Dalam ayat di atas , digunakan kata ma’a, yang asalnya bermakna “bersama”. Artinya kemudahan akan selalu menyertai kesulitan.” Oleh karena itu, para ulama seringkali mendeskripsikan : “Seandainya kesulitan itu memasuki lubang binatang dohb (yang berlika-liku dan sempit,pen), kemudahan akan turut serta memasuki lubang itu dan akan mengeluarkan kesulitan tersebut” (4). Padahal lubang binatang dohb begitu sulit dan sempit untuk dilewati karena berlika-liku (zig-zag). Namun kemudahan akan terus menemani kesulitan walaupun di medan yang sesulit apapun.
Allah Ta’ala berfirman :
“Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS: Ath Tholaq: 7).
Ibnul Jauziy, Asy Syaukani dan ahli tafsir lainnya mengatakan: “Setelah kesempitan dan kesulitan, akan ada kemudahan dan kelapangan” (5). Ibnu Katsir mengatakan: “Janji Allah itu pasti dan tidak mungkin Dia mengingkarinya” (6).
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Bersama kesulitan, ada kemudahan” (7).
Oleh karena itu, masihkah ada keraguan dengan janji Allah dan Rasul-Nya ?
* Rahasia mengapa di balik kesulitan ada kemudahan yang begitu dekat :
Ibnu Rajab telah mengisyaratkan hal ini. Beliau berkata: “Jika kesempitan itu semakin terasa sulit dan semakin dekat, maka seorang hamba akan menjadi putus asa, dan demikianlah keadaan makhluk yang tidak bisa keluar dari kesulitan. Akhirnya, ia pun menggantungkan hatinya pada Allah semata.” Inilah hakekat tawakal pada-Nya. Tawakal inilah yang mejadi sebab terbesar keluar dari kesempitan yang ada. Karena Allah sendiri telah berjanji akan mencukupi orang yang bertawakal pada-Nya.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. (QS: Ath Tholaq: 3). (8)
Inilah rahasia yang sebagian kita mungkin belum mengetahuinya. Jadi intinya, tawakallah yang menjadi sebab terbesar seseorang keluar dari kesulitan dan kesempitan.
Ya Allah..jadikanlah kami temasuk golongan orang yang sabar dalam menghadapi setiap ketentuan-Mu. Jadikanlah kami sebagai hamba-Mu yang selalu bertawakal dan bergantung pada-Mu.
Amin Ya Mujibas Saa-ilin.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Begitu nikmat setiap hari dapat menggali faedah dari sebuah ayat. Semoga hati ini tidak lalai dari mengingat-Nya.
sumber : http://rumaysho.com
foto : lisfr
pelangi malam
25/02/2010
Langit malam kali ini tidak berbintang sama sekali. Seperti malam malam sebelumnya, selalu tertutup awan. Udara malam terasa hangat, mungkin karena langit malam ini berselimut awan. Namun semilir angin yang berhembus dari arah teras belakang rumah merubah ruangan ini menjadi sejuk.
Pikiranku yang seringkali mengembara…. serasa kini tengah berada di tengah padang ilalang jauh di seberang rumahku. Sesekali waktu di tempat inilah aku bermain petak umpet bersama anak-anakku. Sambil menunggu senja hari menjelang Ayah anak-anak pulang kerja. Aku dan ke dua anakku yang masih balita kadang mengumpulkan bunga ilalang dan bunga rumput liar lainya untuk di taruh di jambangan…..semua ini demikian manisnya selalu menghiasi lamunan, tenggelam dalam kenangan….
Kini malam semakin larut….pikiranku serasa masih saja berada jauh di tegalan ilalang itu. Tapi kini aku seolah melihat pelangi yang begitu indah menghias langit diatasku. Meskipun langit gelap tak berbintang, cahaya pelangi seakan mampu menyibak kelamnya langit yang menaungi aku….seakan memberiku sebuah harapan yang pasti….yang bisa ku genggam erat….yang bisa kurasakan aura semangatnya….melingkupi diriku.
Tentu saja kini anak anakku semua telah tidur lelap. Hanya aku saja yang masih terjaga. Dengan pelangi harapan di atasku….ku nantikan selalu Ayah anak anakku….disini….dimalam yang semakin larut dan dihembus angin yg mulai dingin menusuk…..
Meskipun pada kenyataannya kini aku mematung di ambang pintu, hanya menatap nanap padang ilalang di kejauhan itu….namun sukmaku serasa tengah berada berdiri di sana, menantinya di bawah warna warni pelangi malam yang menjadi biru terang bertabur bintang….harapan itu memang ada….bahkan aku merasakannya, kini dirinya telah hadir dan menggamit tanganku……menuntunnya menuju kearah raga ku yang berdiri menyambutnya di depan pintu…..♥
~menunggu~
01/02/2010
Pagi yang benar-benar suram. Awan kelabu menutup rata langit. Gerimis yang kerap terhembus angin sangat kencang. Udara terasa dingin menusuk kulit menmbus ke tulang-tulang. Dia sendirian, terduduk di sudut kamar menghadap jendela yang terbuka lebar. Pandangannya menyapu halaman belakang, terdengar riuh dedaunan di pepohonan terhembus angin, mencipratkan gerimis hujan pada bibir dan tirai jendela. Dingin yang menusuk seolah tak terasakan lagi, karena dadanya telah terbakar gejolak amarah. Seluruh jiwa terasa telah hangus. Sekalipun kulit ari berduri karena udara dingin, tapi dirinya merasa seluruh tubuhnya seakan berubah menjadi seonggok arang, hitam legam dan…mengepul sisa bakaran. Untungnya tdk menjadi abu, sehingga dia masih bisa duduk menikmati panas dalam dirinya yang mulai mendingin karena angin dan gerimis yg berhembus kencang kearahnya dari luar jendela.
Semalam sungguh tak tertahankan. Tersiksa sendirian menahan gejolak amarah yang akhirnya membakar jiwanya, lidah api n pijaranya memancar panas melalui seluler…Kini dia merasa yakin lelaki yang dicintainya selama ini akan memukulnya dengan godam raksasa jika pulang nanti. Dia tak peduli, karena lelaki itu bukan lagi lelaki yang ditunggu2nya. Lelaki seperti itu tak pantas dicintai n ditunggu. Dia siap menerima pukulan telaknya, jika memang tak terima atas luapan gejolak amarahnya semalam melalui ponsel. Dia memang merasa salah, termakan emosi…tapi ya sudahlah, dia sudah bosan dg kebohongan. Mungkin dia sudah tdk tahan cobaan..tapi biarlah..karena dia sudah lelah….
Dia sangat mencintai ….sangat merindukan kehadirannya….Tapi bukan lelaki yang ini. Lelaki yang di tunggu-tungunya adalah yang tengah dalam perjalanan pulang dari pulau seberang…yang dari pelabuhan naik kereta api…yang bukan seorang site manager….yang akan selalu mampir di toko mungil membelikan sekantung kue oleh2 untuk anak2nya….Walau itu cuma hayalan…tapi dia akan dengan setia menunggu lelaki itu…hanya lelaki itu…akan dia sambut dengan sepenuh cinta dg kerinduan yang nyata, yang bisa di rasakan dan bisa dilihat lelaki itu bahwa itulah bukti cinta, kerinduan dan kesetiaannya….memang seperti mimpi…tapi dia akan tetap dengan setia menunggu lelaki itu……bukan lelaki yang ini….bukan yang ini…..Yang ini biarlah ‘kan dibiarkan memukulnya karena dia tak juga mampu menahan gejolak amarah…..menghantamnya karena dia tidak setabah yang diharapkan….
Dia hanya akan menunggu lelaki itu … lelaki yang dulu. Bukan lelaki yang sudah berubah skrang ini…. 
hening yang penuh
08/12/2009
kesunyian merambat dinding-dinding ruang dan waktu kini.
udara dingin menelusup setiap celah dan permukaan segala sesuatu.
keheningan malam membuai harapan yang menebar bersama angan, membaur dalam udara.
ku hirup ….. ku rasakan….
sungguh … kunikmati malam sepi ini begini indah dan nyaman.
tiada gelegak jiwa yang terlepas, tiada satupun emosi yang berkeliaran.
sungguh kurasakan ketenangan ini meresap kesetiap pembuluh darah, merasuk ke dalam sukma…..melayang tinggi…..
terima kasih ya Alloh…..
Kau penuhi jiwa ini…..dengan AsmaMu…..menggema keseluruh ruang dan waktuku saat ini……
penjual balon
20/11/2009
Pagi-pagi dipersimpangan jalan bunderan, saat aku duduk di bangku tukang bubur ayam, istirahat sejenak setelah mengantarkan anak-anak ke sekolah…..ku lihat dua anak laki-laki tanggung jalan beriringan. Tangan mereka menggenggam sebentuk pegangan yang menyimpulkan benang tali segerumbul balon gas. Jumlah balon yang mereka bawa cukup banyak, berwarna warni, berhimpitan kian kemari tertiup angin pagi. Mereka berjalan melintasi ku ke arah salah satu jalan perempatan bundaran perkampungan tempat ku tinggal ini.
Melihat apa yang mereka bawa, tentulah anak-anak itu penjual balon gas. Penampilan mereka nampak dekil, meskipun rambutnya tampak kelimis. Yang satu berambut cepak, yang satunya lagi cepak tapi berjambul lurus kedepan, nge-punk berwarna coklat muda, layaknya gaya anak-anak abg seusianya. Sebetulnya, gaya anak inilah yang semula mencuri perhatianku pada mereka.
Celana jin belelnya digulung hingga betis, demikian juga anak satunya yang cepak. Terlihat dari kakinya yang tidak mengenakan alas kaki, bahwa mereka habis menempuh jalanan becek. Kaos oblongnya pun lusuh. Warna kulit mereka coklat kehitaman karena terbakar terik matahari. Mereka berjalan cepat sambil sesekali pandangannya celingak celinguk melihat keramaian di jalan bundaran ini. Mungkin juga mencari-cari sasaran jualannya, yaitu anak-anak. Tapi sepagi ini, sepertinya belum ada anak-anak yang mereka maksud…..
Disisi lain bundaran, banyak anak-anak berseragam sekolah. Mereka tengah menunggu mobil angkutan yang berbalik arah keluar bunderan. Ada juga yang menunggu mobil jemputan sekolah.
Penampilan anak-anak ini tentu saja rapih dan bersih. Selain berseragam, bersepatu dan menyandang tas, sebagian dari mereka menggegam ponsel. Seragam mereka berwarna putih-putih, putih-abu, putih-biru, putih-merah tua, tetapi ada juga yang putih-kotak2 biru seperti seragam sekolah yang dikenakan salah satu anaku yang masih SMP.
Selain itu, banyak pula bapak-bapak dan ibu-ibu, tua muda, berjalan menuju bunderan, mereka sama sama hendak naik angkot.
Berbagai kendaran lainpun melintasi bundaran kearah gerbang keluar kampung, mobil pribadi, motor ‘pribadi’ dan ojeg. Tukang penjaja makanan sarapan pagipun sibuk melayani pembeli, seperti tukang lotong sayur,
nasi uduk, kue-kue dan tukang bubur tempat aku sekarang nongkrong.
Inilah aktifitas rutin setiap pagi hari kerja di bunderan. Namun dari sekian geliat aktifitas yang berlangsung, penjual balon itulah yang menarik perhatianku. Serasa pikiranku melayang mengikuti mereka. Entah kemana mereka menjajakan balonnya sepagi ini. Mungkin dari rumah ke rumah di kampung ini, berharap ada anak anak merengek meminta dibelikan balon….Atau mungkin mereka hanya melintas, meneruskan perjalanan ke kampung dan tempat-tempat lain yang ramai, tempat yang banyak anak-anak kecil…Entahlah.
Walau hanya sekilas, wajah kedua anak itu membekas dalam pikiranku. Bahkan perasaan ku. Sorot mata mereka tajam, guratan wajah menyiratkan semangat serta keluguan layaknya anak-anak seusianya. Seperti kedua anak ku yang kini baru abg. Mereka serba ingin tahu dan gejolak keinginan yang kadang sulit diarahkan. Barangkali anak anak itupun sama. Tetapi bedanya, kedua anak itu mungkin sekali tidak bersekolah lagi.
Diusia tanggungnya itu mereka berkeliling kampung menjajakan balon gas, mencari penghasilan hidupnya sendiri. Tak ada rasa riskan apalagi malu dan malas. 180° berbeda dengan keberadaan anak anak ku yang segala sesuatu hanya tinggal minta pada orang tua.
Ada perasaan getir dan pahit dalam dadaku. Rasa sayang dan kasihan, juga kekhawatiran akan nasib masa depannya…..Banyak sekali anak anak yang kurang lebih senasib seperti mereka dibelahan kampung…kota….negeri….di dunia ini….
Aku merasa seperti orang tiada guna pagi ini. Duduk sendiri dengan pikiran melayang ke anak anak itu. Bubur ayam telah ku habiskan sejak tadi….
Ingin rasanya ku kejar kedua anak itu yang kini entah sampai dimana. Aku cuma berpikir saja, hanya berempati saja….tiada guna memang. Perasaan seolah termakan pikiran sendiri akan keberadaan nasib kedua anak itu. Namun di lubuk hati aku berharap, berdo’a, semoa Tuhan memudahkan rijki dan perjalanan hidup mereka…menjadi manusia-manusia yang berguna di kemudian hari….
Akan tetapi pada kenyataannya, kehidupan yang terlihat kadang tidak seperti tampaknya. Yang terlihat sengsara karena kemiskinan belum tentu tidak bahagia dan menderita.
Yang nampak hidup senang karena bergelimang harta belum tentu bahagia.
Kesulitan hidup saat ini belum tentu melahirkan kesengsaraan di waktu mendatang. Begitupun sebaliknya, kemudahan hidup saat ini belum tentu mengantarkan pada keberhasilan dan kesuksesan hidup di saat nanti.
Kesenjangan kehidupan yang nyata didepan mata ini memberi kesadaran untuk semakin peduli pada sesama yang kehidupannya kurang beruntung…. Terkadang dan bahkan seringkali kesenjangan itu begitu vulgarnya terpampang dihadapan dan di sekeliling kehidupan ini…. 
tertidur
25/10/2009

Malam ini sangat dingin sekali. Hujan yang dari sejak siang turun, kini telah reda. Tinggal menyisakan udara dingin menyelimuti alam sekelilingku yang gelap….
Kurasa diriku sendirian. Tak ada siapapun, bahkan benda-benda yang biasa ku lihat tak sepotongpun nampak. Namun aku merasa lega…..mungkin karena tiada terdengar hiruk pikuk dan gegap gempita suara…juga geliat aneka macam bentuk dan rupa kehidupan…..
Ku kira …saatnya kini aku bberlari sekencang yang ku mau dan ku bisa. Ku kitari segala penjuru dunia yang sepi ini…tapi lapang. Saatnya kini aku berteriak semampu yang ku bisa…getarannya menembus langit tinggi yang bening…menyeruak semesta alam sunyi….Ku kira, inilah saatnya aku mengekspresikan apapun yang ku mau atas hidupku yang demikian hening ini..disini….
Hanyalah aku dengan Tuhanku….apapun urusan hidupku disini. Seperti halnya insan di alam kuburnya. Derita dan bahagianya hanya milikNya…dalam genggamanNya…yang diberikan sesuai amalan hidup di dunia. Saat inipun demikian….aku menantiNya….dikesendirian ini….dalam lelap yang dingin dan hening…
Rasanya … aku tak ingin bangun dan keluar dari sini. Meskipun tiada cahaya terang benderang menghangati tubuh telanjangku…disini aku merasa nyaman. Pendar cahaya malam yang temaram mampu menghangatkan tubuku. Keheningannya mampu memfokuskan segenap jiwa dan perasaanku demikian dekat … denganNya….seakan tak ada alasan ku untuk kembali…..Namun sayup-sayup tapi pasti ku dengar seruan bocah-bocah memanggil…..”maaa…maa…listrik padam…hujan…geluduk…takuuut….!!!”…….hmmm…Aku menggeliat dan ku rasakan semua bocahku menyelusup ke dalam selimutku….tertidur…. tapi kini aku terjaga sendirian di tengah kegelapan dan riuhnya suara angin ….sesekali kulihat bayangan pepohonan di balik jendela tersinar kilat berkelebat….
landscape-painting
01/10/2009

gadis kecil itu….(2)
24/08/2009
Dia berlari sekencang yg dia mampu. Hujan kian deras dan anginpun berhembus kencang. Dalam sekejap saja kerumunan dan lalu lalang orang-orang dijalanan menjadi sepi. Mereka menepi ke dinding pertokoan, warung dan sebagian masuk kedalamnya.
Akhirnya dia berteduh dibawah kanopi jendela yang lebar. Dia merapatkan tubuhnya pd diding bibir jendela. Inginya dia terus berlari menerjang lebatnya hujan, menghampiri warung-warung dan makanan-makanan yang hendak dibelinya. Tapi matanya terasa berkunang-kunang, membuatnya limbung dan larinya gontai. Dia memilih untuk mengatur nafasnya dulu yg trsenggal senggal sambil berteduh.
Langit senja tertutup hujan semakin temaram seiring beranjaknya malam. Adzan magrib terdengar sayup berbaur gemuruh hujan. Air hujan menerpa wajah dan bibirnya, terasa sedingin air es, dihirupnya sekedar membasahi kerongkongan kering. Meskipun tak seberapa, air hujan itu mampu memberi sedikit kesegaran dalam dada, sebagai pembuka puasanya…
Tangannya memeluk dada sambil menggenggam uang yg belum dibelanjakan. Terpaan angin berikut hujan membuat baju kuyup melekat di tubuh. Dia mulai kedinginan. Tubuhnya semakin merapat kedinding dan bibir jendela, berharap makin terlindung. Di balik jendela bertirai transparan terlihat olehnya meja besar dikelilingi orang dewasa dan anak2. Rupanya orang2 itu tengah menikmati makanan yg terhidang di meja. Perut yg telah melilit perih tak disadarinya, karena tiba-tiba terbuai bayangan menyenangkan dibenaknya…dia merasa tengah duduk di samping nenek…makanan tergelar di atas tikar, nasi bungkus kesukaannya, kolak, kue2, dan aneja macan jajanan …. Senyumnya mengembang, sama sekali tak terasakan derai air hujan menerpa kulit, juga angin dingin menusuk tulang. Dia tenggelam dalam halusinasi yg kini melingkar-lingkar di atas kepalanya…
Bayangan itu tiba-tiba lenyap ketika kilatan cahaya membelah langit. Bersamaan dengar gemuruh guntur, samar-samar sesosok tubuh menyingkap derasnya tirai hujan. Beberapa kali diseka matanya, karena tak mempercayai siapa yang dilihatnya. “Neneek…?!” pekiknya. Senyumnya kian terbuka lebar, saat melihat kedua tanggan yang terkembang itu benar2 tangan neneknya, mengarah padanya. Disambutnya dengan pelukan yang teramat kuat. Kerinduan memuncak dalam dada, seakan bertahun2 tak bertemu. Ditatapnya penuh harap wajah dn senyum nenek, tampak seakan bercahaya…kepalanya tenggelam dalam pelukan yg membuatnya tentram dan nyaman…tak ingin lepas…mengikatnya dalam kebahagian. Kebahagiaan yg mampu menyeka peluh keletihan, mengusap air mata kesengsaraan, mengenyangkan perut di saat lapar…bahkan mampu menghapus rasa sakit di tubuh jadi tak terasakan….
Begitulah gadis kecil itu…berbeda dengan anak-anak lain, yang di hari pertama puasanya bisa leluasa bermain hingga waktu berbuka dan menikmati aneka makanan ditengah-tengah keluarga. Sedangkan
gadis kecil itu, setelah menjalani puasa hari ini, akhirnya dia tergolek lemas tersiram hujan dan terhembus angin, dan kaku kedinginan, di sudut dinding bawah jendela…
Keesokan hari…beredar cerita ttg nenek dan cucu meninggal dalam keadaan menyedihkan. Sang cucu meninggal di dekat pasar, sedangkan neneknya terduduk kaku didepan pintu. Juga, tersiar cerita bahwa kedua wajah mereka tampak berseri…jarang sekali wajah orang meninggal menyiratkan kebahagiaan, kedamaian dan ketenangan yang spt itu……
Bjg.gede,22agustus2009
gadis kecil itu…(1)
23/08/2009
Hari ini adalah hari pertama puasa bulan ramadhan. Seperti biasa, sekolah diliburkan utk menyambut memasuki bulan suci umat muslim di seluruh dunia. Tentu saja anak-anak yg libur sekolah, akan tersibukan berbagai kegiatan ramadhan, spt shalat tarawih, mengaji dan mendengar ceramah subuh di mesjid. Akan tetapi biasanya yang lebih banyak adalah bermainnya, puasa menjadi terhibur…. tak begitu terasa lapar dahaga hingga menjelang berbuka puasa.
…berbeda dg seorang gadis kecil yatim piatu yg tinggal dipinggiran kota bersama neneknya yg renta. Setiap harinya adalah liburan, karena di tahun terakhir ini dia tidak bersekolah lagi. Hampir setiap hari perutnya menahan lapar, meski bukan di bulan puasa.
Tubuhnya kurus kecil. Meskipun usianya menjelang sembilan tahun, tampak spt usia teka. Rambutnya lurus panjang tergerai menutupi tengkuk yg tertutup baju lusuh. Kulitnya putih meski tampak dekil, dan sorot matanya bersinar bening meski kelopaknya terlihat cekung…
Gadis kecil ini setiap pagi menjual kantong kresek di pasar yg lumayan jauh dari rumahnya.
Spt anak2 lain seusianya yg belajar menamatkan puasa ramadhan, di awal puasan inipun dia berpuasa. Baginya menahan lapar sudah hal biasa, karenanya dia berharap di tahun ini akan mampu menamatkan puasanya sebulan penuh, spt tahun lalu. Hanya saja sudah beberapa pekan ini ada yg tak beres dg tubuhnya. Keringat dingin kerap membasahi kening dan tubuh kurusnya. Namun gejala sakit ini tak dirasanya karena tersilap rasa lapar yg sering melilitnya. Tapi karena sudah diniatkan, dia bertekad tetap berpuasa.
Dan
pagi ini, keramaian orang-orang di pasar akan segera menyibukannya berjualan kantong kresek. Daripada bermain, dan daripada luntang lantung jadi pengemis…
Sejak neneknya tak mampu lagi berjualan sayuran di pasar karena sakit, hampir setahun ini dia menjual kantong kresek. Modal dagangan nenek telah habis utk mengobati radang paru2nya yang sudah akut. Kini nenek hanya terbaring di tempat tidur. Hanya dia sendirian yang merawatnya, sekaligus mencari sesuap nasi untuk mereka berdua. Bantuan kadang diberikan para tetangga yg menaruh belas kasihan pada mereka. Meskipun sangat mengharapkan, tentu saja bantuan itu tak bisa dijadikan andalan. Bagi anak sekecil itu tentu sangat berat menjalani kehidupan spt ini. Tapi tali kasih yang terjalin sejak bayi menjadikan mereka merasa nyaman dalam kehangatan cinta yg sangat kuat. Kebahagian itulah yg menjadi penghibur dlm menjalani kesengsaraan dunia ini. Kebahagiaan saling memiliki itu, mereka rasakan mampu menyeka peluh kelelahan, dan air mata kesengsaraan, mampu mengenyangkan perutnya di saat kelaparan, bahkan jadi pelipur rasa sakit jadi tak terasakan…
Dia mengasongkan jualan kpd orang-orang yg tengah belanja di pasar. Kadang harus membututi pebelanja hingga akhirnya mau membeli. Disaat bedug dzuhur biasanya barang berikut hasilnya diberikan kpd pemilik barang yang bertoko di dekat pasar itu juga. Setelah dipotong modal barulah dia mendapat keuntungan. Seringkali keuntungan itu hanya cukup utk membeli sebungkus nasibungkus…
Dan kini, meskipun hari sudah terik, matahari tepat di atas kepala, dan beduk dzuhur sudah di tabuh, adzanpun telah berkumandang bbrapa saat lalu…jualannya baru sedikit sekali yg laku. Dia akhirnya meminta waktu tuk berjualan lagi setelah smbahyang dn istirahat sejenak di mushola pasar, kpd yg punya barang dagangannya. Meskipun hatinya mencemaskan neneknya di rumah, krn biasanya dia berjualan hingga waktu dzuhur. “Hitung2 sambil ngabuburit,” fikirnya.
Tentu saja jika sudah lewat tengah hari, kesibukan di pasar tidak seramai pagi. Dia mengalihkan sasaran penjualan dipelataran dan depan pertokoan yg dijejali pebelanja. Orang2 begitu banyak berlalu lalang. Tampak juga anak2 tengah sibuk memilih mainan dan membeli aneka makanan yg tergelar dipinggir jalan.Tapi entah kenapa, yang melirik dan membeli jualan asongannya hanya sedikit. Padahal di hari puasa ini, dia berharap dapat lebih untuk membeli tambahan makanan berbuka puasa. Tapi rupanya harapan itu sia-sia. Menjelang sore akhirnya dia kembali pada pemilik barang, hendak menyetor barang berikut hasilnya. Setelah keuntungan dia terima, ternyata dia diberi tambahan uang utk membeli makanan berbuka puasa. Sungguh tak disangka. Dia mengucapkan banyak-banyak terimakasih kpd pemilik barang. Bukan main girangnya. Segala keletihan dan rasa lapar dahaga seakan begitu saja lenyap. Setelah berpamitan dia bergegas pergi ke warung nasi langganannya di pinggir pasar. Terbayang wajah nenek… tentu tengah menunggunya sejak tadi siang…terbayang sudah makanan2 apa saja yang akan dibelinya di warung2 pinggir jalan itu. Namun tiba-tiba hujan turun….
…bersambung… 
~ Ingin ke Bandung
21/01/2009
Inginnya liburan kemarin saya ke Bandung. Sudah sangat lama saya tidak
pernah jalan-jalan di kota Bandung yang semakin heurin kutangtung.
Inginnya saya bisa jalan menyusuri pertokoan dalam kaum dan membeli
pernak pernik kesukaan. Dari dalam kaum ke Otista, terus ke Pasar
Baru, membeli kain denim kiloan sambil jajan mie kocok di salah satu
gang yang menuju Jl Tamim.
Sebetulnya yang paling saya inginkan adalah nonton bioskop di Galaxi
atawa di Kings. Kalau saja masih ada inginnya nonton di BragaSky atau
Mayestik. Dulu sih, di Balai Kota sering ada pameran seni, sehabis
nonton biasanya nyebrang ke pasar seni. Di Gedung Merdekapun dulu suka
digelar pameran lukisan, seperti Basuki Abdullah dan Afandi. Saya bisa
seharian melihat pameran dan mengikuti demon lukisan oleh
pelikis2 yunior. Tapi setahu saya sekarang sudah tidak ada pameran
merakyat seperti itu lagi.
Mengenang Bandung th delapanpuluhan mengingatkan saya pada teman-teman
sekampung, Kiaracondong. Terutama tempat tongkrongan di toko Mugilaris
dan Penjahit Cahya Tailor. Sekalipun terkenal krodit & the bronk,
saya enjoy saja menjadi bagian hiruk pikuknya. Meskipun begitu
kekeluargaan yang terjalin cukup erat. Dari esde, esempe hingga kuliah
kelompok pertemanan yang saya jalani bersama-Sama teman kampung ini
tidak pernah buyar. Setelah satu persatu menikah dan kemudian saya
pindah ke kota lain, pertemanan itu buyar dengan sendirinya
dan entah kenapa kami benar benar lost contac.
Saya merindukan kembali seperti dulu, walau hanya sehari, sejam atau
semenit saja! Diusia saya saat ini entah kenapa
saya seolah seperti orang yang mendaki kemudian ingin ngaso, sejenak
saja. Saya tahu mungkin baru setengah, tiga perempat atau mungkin
tinggal beberapa waktu lagi hidup yang masih akan saya tempuh ini,
kalau saja mungkin saya ingin kembali ke masa itu sekejap saja, untuk
kemudian melanjutkan pendakian lagi.
Liburan kemarin, akhirnya saya tidak bisa ke Bandung. Saya bersama
suami dan anak-anak menghabiskan waktu liburan, jauh, di kota lain.
Entah kapan saya bisa leluasa jalan-jalan di Bandung, beli batagor
ihsan di kopo, nonton film indianajones di braga, melihat pagelaran
seni di balai kota atau gedung merdeka, atau kalau mungkin
momotoran ke pangalengan dan lembang. Ya….agaknya itu cuma
angan dalam mimpi, hemh….
> MALABAR – PAPANDAYAN
22/12/2008
Mengumpulkan kembali ingatan masa lalu yang sudah lebih dari duapuluh tahun ternyata bukan hal yang mudah untuk ditulis dan diceritakan. Saya harus berkonsentari 'keras' memfokuskan ingatan ke masa th 84-th86, demi mengingat kembali beberapa perjalanan yang pernah saya lakukan bersama teman-teman dimasa itu.
Yang akan saya coba ingat dan ceritakan saat ini hanya 3 perjalanan saja dulu. Namun cerita ini saya tulis 'sekenanya' sesuai dengan kemampuan 'ketajaman' memorinya yang sudah jadul pula.
Sebetulnya saya merasa bahwa kenangan masa itu tak dapat terganti oleh apapun dan tak mungkin terhapus waktu, namun kenyataannya, daya ingat manusia, khususnya saya ternyata terbatas. Dulu saya merasa, bahwa hari demi hari yang berganti, tahun tahun yang begitu cepat berlalu dan berbagai peristiwa yang datang dan pergi, semua itu seolah tak ada yang mampu menggantikan 'masa lalu yang penuh warna' itu.
Kenyataannya kini saya telah kehilangan sebagian besar bayangan kenangan masa yang penuh warna itu, tergantikan warna masa kini yang melengkapi semua warna yang sejatinya tetap tersimpan. Tulisan ini tak lebih hanyalah semacam siluetnya saja. Bukan cerita perjalanan yang utuh dan lengkap. Bahkan mungkin kurang mewakili cerita perjalanan itu sesungguhnya. Banyak sekali kejadian, waktu, tempat dan nama teman-teman seperjalanan yang telah luput dari memori saya. Mohon maaf bila ada salah ingat dan salah tulis.
Perjalanan yang ingin saya ungkap disini (sesuai dengan apa yang masih terbayang dalam ingatan saya), yaitu :
Ke I. Ke puncak Malabar
Ke II. Survival
Ke III. Papandayan via Pangalengan
foto: by hdmesa
> Ke II. survival 1
19/12/2008
Perjalanan dimulai dari salah satu PLTA yang terletak sebelum Pangalengan. Di daerah ini terdapat dua PLTA yang dibangun sekitar Th 1920an, plta Plengan dan plta Lamajang. Tepatnya kedua PLTA ini terletak di blok Gunung Tilu, skitar 3 km dari situ Cileunca. Dibangun oleh KAR Boscha, seorang Belanda yang membuka perkebunan Malabar, membangun teropong bintang di Lembang(sekitar Th 1898 – Th 1928 Observatorium Boscha merupakan pemilik lensa teropong terbesar di dunia), membangun Gedung Merdeka (sosieteit concordia) dan mendirikan Technologie Hogeschool yang merupakan cikal bakal ITB sekarang. Itu semua merupakan sebagian dari 'sumbangsih' kedermawanan sarjana teknik lulusan Delf ini terhadap negri yang ketika itu dijajah pemerintahnya.
Entah naik apa dan tiba jam berapa, seingat saya kami menuruni lembah disebelah kanan jalan raya Pangalengan. Setelah menerabas berbagai semak dan pepohonan kami berkumpul di dekat pipa plta Lamajang yang tampak menjulur keatas bersandar pada tebing hingga ketinggian yang sulit terlihat karena gelapnya malam. Saya berikut rombongan peserta survival menaiki tangga yang terletak di samping kedua pipa air yang
berdiameter 1,5 m itu.
Selain memiliki tangga, pipa plta Lamajang difasilitasi jalur lori yang menghubungkan stasiunnya dengan ketiga ruang turbin dibawahnya. Lori tersebut memuat 10 orang penumpang berikut muatannya hingga mencapai tonan. Dengan kemiringan yang yang cukup curam, 70 – 80 derajat, lori ditarik turunkan dengan slip baja sepanjang sekitar 280 m. Karena perjalanan malam hari, ketika itu saya tidak melihat adanya lori tersebut (entah kalau dibagian inipun memorinya eror…)
Yang masih saya ingat, sekeliling saya nampak gelap. Lampu penerangan tergantung pada tiang dengan jarak yang cukup berjauhan. Udara terasa mulai dingin, tetapi karena bergerak, saya tak begitu kedinginan.
Ketika kami berbelok ke arah kiri, keluar dari tangga dan menjauhi kedua jalur pipa, saya tak berfikir ke arah mana dan sampai mana ujung pipa sepanjang 500 m itu dan tangga yang berjumlah 1400 buah anak tangga tersebut berakhir. Yang ada di kepala hanyalah mencari jalan yang harus kami jejaki dan lalui hingga mencapai tujuan yang saya sendiri tidak tahu akan finis dimana.
Pipa plta lamajang berakhir di ujung tebing hingga berhulu disebuah kolam penampung air yang berasal dari Cisarua, Cisangkuy dan Situ Cileunca. Dari sana air masuk ke dalam pipa dan mengalir ke bawah dengan derasnya, mampu menggerakan 3 turbin yang terletak dibawah tebing tersebut. Masing-masing turbin menghasilkan 6,52 MW.
Perjalanan dilanjutkan kearah perkebunan, sebelah selatan Situ Cileunca. Sakuriling bungking nampak kelam dengan langit biru menghitam. Kerlap kelip lampu rumah penduduk tampak satu dua dikejauhan. Gunung yang berderet dikejauhan berwarna hitam kelam disambung perkebunan berundak- undak dibawahnya, sama kelamnya. Ketika itu saya masih tergabung dengan kelompok beberapa teman seangkatan. Tak banyak bicara, kami mencari kearah mana jalan yang harus kami lalui.
Menjelang pagi kami tiba di dataran tinggi yang ditanami kentang. Udara pagi serasa menyegarkan walaupun tubuh masih juga ngadaregdeg. Perut mulai melilit lapar. Melihat beberapa orang petani tengah mencabuti kentang kami menghampiri mereka. Beberapa teman saya meminta beberapa buah kentang sambil celingukan, khawatir ada instruktur yang mengawasi. Saya meyakinkannya tidak seorang instrukturpun didekat kami. Bahkan peserta yang lainpun berpencar entah kearah mana. Karena lapar, beberapa teman saya (laki-laki) memakan kentang ternyata masih kehijauan, mentah-mentah. "Rasanya gak enak!",teriaknya. Tapi ditelannya juga. Kasihan. Saya berusaha menahan lapar dan haus dari pada nekad memakan kentang mentah itu. Kami tertawa-tawa dan berteriak-teriak bagai orang linglung sambil berlari mencari-cari teman yang sudah jauh meninggalkan kami.
Kedudukan matahari kira-kira menunjukan pukul sebelas. Intensita panasnya benar-benar terasa membakar kulit yang semula mengkerut kedinginan. Perut semakin seueul dan tenggorokan hanaang kehausan. Saat itu kami melewati perkebunan tomat bohlam, berbentuk lonjong. Pohon perdu itu dipenuhi buah-buah ranum berwarna hijau, jingga hingga merah. Saya berfikir ini baru buah yang layak untuk dimakan sekedar penawar haus dan lapar. Temanku memetikannya beberapa buah, semuanya dikasih ke saya. Hati saya senang bukan main seperti kanak kecil mendapat segenggam permen. Tak perlu celingak celinguk saya langsung menerimanya. Tetapi setelah saya perhatikan buah itu, sebelum memakannya, saya terkejut handeueul semu keuheul. Ternyata buah itu bukan tomat bohlam seperti yang saya duga, melainkan cabe gendot yang permukaan buahnya mirip sekali tomat bohlam. Tentu saja saya membuangnya. Teman yang memberikan buah itu langsung ngibrit lari sambil nyeungseurikeun, sebelum saya sempat ngambek. Gara-gara saya tidak mengenakan kaca mata minus jadinya tertipu. Yah dasar…memang harus benar-benar berusaha survive.
Sebetulnya sebelum berangkat, diam-diam sebagian teman sepakat membawa segandu gula merah buat jaga-jaga kalau tidak kuat. Tapi saya lupa dan kebetulan teman-teman kelompok saya(semua laki-laki)pun tdk membawa gula. Mereka malah menyembunyikan beberapa batang rokok di ranselnya, ketimbang gula.
Medan yg kami lalui tidak begitu berat. Kami lebih banyak melalui jalan setapak dan perbukitan yg tidak begitu curam dan taringgul.
brsmbung.
foto: by hdmesa
> survival 2
19/12/2008
Naik tangga plta Lamajang, saya rasa mungkin itulah medan yang lumayan memeras keringat. Tapi yang paling berat bagi saya adalah tidak boleh membawa makanan dan minuman.
Menjelang petang hujan mulai turun. Saya berjalan sendirian memasuki jalan lorong perkebunan. Kiri kanan jalan dirimbuni pepohonan teh yang tengah berbunga. Diujung ranting-rantingnya tampak bunganya merah kecoklatan. Dengan di tutupi ponco saya terus melanjutkan perjalanan, hingga tak saya sadari, saya terpisah dari teman-teman. Saya lebih terbawa suasana alam yang tengah diguyur hujan.
Langit berangsur cerah setelah hujan mereda. Sekalipun memakai ponco, jeans dan kaos yang saya kenakan kebasahan juga, begitupun ransel. Ditengah perjalanan sendiri itu ada rasa khawatir kesasar. Hujan tinggal gerimis, tetapi saya semakin kedinginan karena angin yang berhembus kencang menyingkap-singkapkan ujung-ujung ponco yang saya pakai.
Akhirnya saya melihat seorang teman yang tengah berteduh di saung penampungan teh. Tangannya ngadaregdeg bersilang di dada, menahan kedinginan. Suara gemeletuk giginya dikeraskan saat saya menghampirinya. Saya senang sekali melihatnya. Sambil bercanda menawarkan rokok dia menyulutnya dan menghisapnya sendiri. Bukan rokok yang saya ingainkan, tapi sepiring nasi hangat beserta daging gepuk dilengkapi secangkir teh manis dan sehelai selimut tebal…..!?
Saya bersandar pada tiang penyangga saung. Rasa dingin yang selama kehujanan melengkapi rasa lapar, semakin terasa merasuk keseluruh tubuh saat saya akhirnya terduduk di tanah basah. Mulut terasa paal karena meminum air hujan. Saya baru menyadari betapa lelahnya, betapa perihnya dan dinginnya. Rupanya ini yang dinamakan salatri dan kabulusan itu. Saya terbuai halusinasi rasa hangat nyaman yang semu. Ibarat orang kehausan digurun gersang melihat riak-riak air.
Menyadari kondisi saya seperti itu, saya berusaha berkonsentrasi dan bertahan agar tetap sadar, agar tidak pingsan. Entah apa saja yang dibicarakan teman saya, dia tak menyadari bahwa saya tengah melawan kelelahan yang amat sangat. Saya berusaha hanya tersenyum saja seakan saya mendengarkan dengan baik apa yang dibicarakannya.
Setelah beberapa saat terduduk, bersandar, beristirahat, tumbuh kekuatan yang berangsur mampu menghangatkan tubuh yang semula kedinginan. Matahari yang lingsir ngulon mengintip dibalik awan keperakan menyilaukan. Langit nampak cerah ditaburi awan repih yang tipis putih.
Kami melanjutkan perjalanan setelah hujan benar-benar reda. Meskipun lambung tetap perih tetapi bentangan alam yang begitu indahnya di depan mata, mengaburkan rasa sakit itu. Gunung-gunung, mulai dari Malabar hingga Papandayan tampak jelas permukaannya dipenuhi pepohonan lebat berwarna biru tua kehijauan. Perkebunan teh layaknya permadani menutupi seluruh perbukitan. Barisan pepohonan pinus menambah sieup hamparan kebun teh dan pegunungan.
Saya sempat mengabadikan pemandangan itu dengan kamera jadul saat itu. Selain, tentunya, merekamnya dalam ingatan…
Selanjutnya, sungguh, saya tak mampu mengingatnya lagi, kearah mana tujuan kami, berkumpul dimana, kegiatan apa saja yang kami lakukan selama diklatsar lapangan itu. Bahkan saya tak ingat pukul berapa, naik kendaraan apa dan melalui daerah mana kami semua kembali pulang ke Bandung. Hanya itulah yang masih terbayang dalam ingatan saya.
foto: by hdmesa.
> Ke III. papandayan via pangalengan 1
18/12/2008
…….yang masih teringat, saat itu hari sudah lewat magrib ketika kami serombongan (sekitar sepuluh orang) tiba di Terminal Cicaheum. Hujan mulai turun. Saya bingung ternyata hujan semakin deras. Tujuan perjalananpun jadi kabur, entah mau kemana jadinya. Pada mulanya ada beberapa tujuan yang kami rencanakan. Tetapi dengan hujan seperti itu kelihatannya teman-teman jadi ragu meneruskan perjalanan.
mengingat kondisi yang tidak mendukung itu beberapa teman mengusulkan untuk membatalkan perjalanan tersebut (kalau tidak salah saat itu adalah penghujung tahun. Tahun sebelumnya kami pernah kamping tahun baruan di Cikole. Ketika itu kami berencana mengakhiri tahun disuatu tempat yang sebetulnya belum kami sepakati benar lokasinya). Mendengar usulan itu saya agak kecewa, karena saya sudah ‘setengah mati’ minta ijin ortu untuk ikut perjalanan itu. Saya keukeuh agar perjalanan dilanjut saja karena hujan pasti akan reda. Sebagian teman yang lain sependapat dengan saya.
Kami sepakat berangkat naik bis ke Pangalengan, dengan tujuan Gunung Papandayan. Saya tak dapat mengingatnya bagaimana keadaan kami selama naik bis, dan entah melalui jalan/daerah mana saja karena perjalanan malam. Saya kira mungkin keadaan kami sedikit banyak basah karena kehujanan, mungkin juga ngantuk . Namun yang masih jelas saya ingat, sedikitpun saya tidak merasa lelah. Setiap mengikuti perjalanan saya merasa enjoy dan benar-benar menikmatinya apapun kondisinya. Saya kira demikian juga saat itu.
Entah berapa jam perjalanan naik bis, yang saya ingat dan tergambar dalam ingatan, yaitu kami turun di Terminal Pangalengan. Suasana terminal hampir sepi, kendaraan hanya beberapa saja, toko dan warungpun sudah banyak yang tutup. Maklum disebuah kota kecil Selanjutnya kami berjalan kaki ke arah Perkebunan Malabar. Jalanan aspal nampak hitam berkilat permukaannya bekas diguyur hujan. Langit lenglang dengan sedikit awan tipis, kelam. Kiri kanan rumah-rumah yang kami lalui sepi, hanya cahaya bohlam yang berpendar diteras dan pekarangannya. Kendaraan yang lewatpun sangatlah jarang. Saya menjelaskan kepada teman-teman, bahwa jarak ke gerbang perkebunan cukup jauh. Kalau siang biasanya ada beberapa kendaraan pikup perkebunan sebagai sarana angkutan warga perkebunan menuju pasar. Karena sudah malam, jangan berharap ada angkot yang bisa disetop dan mengagkut kami memasuki perkebunan. (th 81an saya pernah ppl di s pangalengan, jadi sedikit tahu tentang pangalengan)
Ketika kami tengah menyusuri jalan tiba-tiba dari arah belakang terlihat ada kendaraan melaju. Setelah tahu bahwa kendaraan itu sebuah truk kami segera melambaikan tangan, berharap truk berhenti. Dan truk pun berhenti. Tanpa fikir panjang lagi kami semua ngagarajleng naik gerobak belakang setelah minta ijin supir. Truk pun bergerak laju lumayan kencang. Angin dingin yang tersibak membuat seluruh tubuh kedinginan. Tercium kotoran ternak bercampur bau rerumputan busuk. Kami baru sadar ternyata truk tersebut rupanya truk pengangkut ternak, mungkin ternak sapi. Tentu saja sepatu-sepatu kamilah yang paling ‘menderita’. Tapi biarlah, daripada harus jalan kaki…
Melewati gerbang perkebunan truk berhenti. Sebelum truk berbelok kami semua turun. Dihadapan kami gelap gulita, hanya satu dua penerang yang berkelip dikejauhan. Kami meneruskan perjalanan lagi. Jalan kaki. Udara semakin dingin tapi terasa menyegarkan. Entah yang lain, bagi saya ini menambah sedikit kebugaran tenaga dan membuat mata rada bengras. Sambil berjalan diatas rumput pinggir jalan, spatu saya gosok-gosokan kerumput yang saya lalui, sekedar membersihkannya dari kotoran ternak yang mungkin nempel.
Ketika menoleh kebelakang dikejauhan terlihat sepasang lampu kendaraan menembus kegelapan malam, deruannya sayup semakin jelas memecah kesunyian alam perkebunan. Lampunya semakin terang seakan menembus sosok-sosok kami yang tersilaukan. Saya dan teman saya iseng melambaikan tangan saat kendaraan semakin mendekat. Ternyata kendaraan itu sebuah bis yang tampak sangat besar dan indah dengan lampu gemerlapan. Ditengah kegelapan dan kesunyian kedatangan bis seperti itu bagi saya ajaib. Ditengah keheranan itu, tiba-tiba pintu depan bis terbuka. Masih terheran-heran, ternyata sang kondektur mempersilakan kami masuk. Tanpa fikir panjang kami dengan suka cita masuk ke dalam bis. Interior di dalam bis tersebut serasa sangat mewah bagi saya yang kedinginan. Pencahayaan temaran kekuningan terasa menghangatkan. Dibawahnya beralas karpet berwarna maroon. Kursi-kursi nampak empuk dan bersih, kiri kanan berjejer dua dua ke belakang.
Teman-teman setengah berteriak kegirangan memilih tempat duduk masing-masing dan merebahkan diri sambil menyelonjorkan kaki, langsung tiduran. Sayapun tak lepas-lepasnya tersenyum kesenangan lalu duduk menyamankan diri. Bispun bergerak melaju perlahan menembus kegelapan….
Tak seorangpun diantara kami mempertanyakan kemana tujuan bis tersebut,…..sebuah bis mewah yang tiba-tiba muncul dibalik kabut kegelapan malam, ditengah perkebunan luas yang dingin dan sunyi, dan dengan begitu saja kami ikut, seolah tak peduli mau dibawa kemana…..
bersambung
foto: by hdmesa
> papandayan via pangalengan 2
18/12/2008
Entah berapa lama dan berhenti diperkebunan apa, kami akhirnya turun dari bis tersebut. Bis melaju, menghilang dari pandangan entah kemana menembus kabut yang semakin tebal. Seperti baru terbangun dari mimpi, itulah yang saya ingat. Saya kira perjalanan naik bis tersebut melampaui beberapa perkebunan. Perkebunan Santosa dan Talun tidak kami lalui selama melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki kemudian. Saya kira waktu sudah melampaui tengah malam ketika itu.
Kami menyusuri jalan lorong perkebunan. Kiri kanan tampak perkebunan bagai beledu gelap menghampar berlatar perbukitan bagai paya-paya hitam. Bintang di langit berkelip dibalik awan yang menebal, menabur kabut, kelam. Kami terus berjalan nyaris tanpa suara selain suara langkah kami. Bibir serasa kelu , ujung hidung dan jemari serasa kaku karena dingin semakin merasuk.
Kami melalui beberapa perkebunan yang tak saya ketahui lagi namanya. Pada setiap perkebunan saya lihat nampak sebuah bangunan besar, mungkin pabrik penampung, pengering dan pengepakan teh. Saya lihat juga disebelah bangunan besar itu ada rumah kuno, mungkin tempat tinggal kepala pabrik atau mandor. Ada juga deretan pemukiman kecil-kecil disekitarnya, mungkin itulah tempat hunian buruh perkebunannya. Dari kejauhan area itu nampak terang bagai gugusan bintang dilangit yang ribuan banyaknya, mirip sebuah distrik atau kerajaan kecil dilingkungi hamparan kegelapan. Saya sungguh takjub melihat keindahan pemandangan malam itu. Seperti di negeri dongeng Nurmala dan Oky di Majalah Bobo. Terekam, terikat erat dalam kenangan hingga saat ini.
Menjelang subuh, suhu uadara tengah dingin-dinginnya ketika kami melihat dikejauhan tiga sosok tengah berjalan memunggungi kami. Sungguh tak diduga, ternyata mereka adalah teman seangkatan kami yang mengadakan perjalanan dengan tujuan yang sama pula. Kami bergabung dan sama-sama melanjutkan perjalanan ke Gunung Papandayan. Ketika itu perjalanan kami sudah tidak jauh dari jalan setapak yang menuju ke arah Papandayan.
Seperti cerita-cerita sebelumnya, saya tidak begitu ingat kelanjutannya. Terlalu samar untuk diingat, sulit menuliskannya. Bayangan ingatan saya tentang lereng dan puncak papandayan dalam perjalanan ini, suka tertukar dengan bayangan ingatan perjalanan ke papadayan via cisurupan.
Sayapun benar-benar tidak mampu mengingat melalui jalan dan daerah apa ketika turun dari papadayan.
Menggunakan google map saya mencoba menelusuri perjalanan tersebut hingga ke fokus terdekatnya dari udara. Tapi tetap memori saya tak terpancing. Mungkin suatu saat saya 'perlu' napak tilas perjalan itu. Siapa tahu ingatan saya terbuka lagi. hemh…boleh juga untuk dipertimbangkan buat acara liburan akhir tahun ini … tamat
foto:by hdmesa
> di rumahsakit
03/12/2008
Kurang lebih dua tahun lalu, secara dadakan teman-teman yang puluhan tahun tidak pernah saya lihat, tiba-tiba datang menjenguk saya yang tengah dirawat disebuah rumah sakit di Bandung, beberapa hari setelah lebaran.
Seandainya memungkinkan, inginnya saya bangun kemudian mengajak mereka kesuatu tempat yang memungkinkan bisa ngobrol leluasa dan bercanda sepuasnya seperti dulu…..!?
Tentu saja saat itu saya cuma bisa duduk saja di tempat tidur, dikelilingi teman-teman dan menjadi pusat perhatian mereka. Saya benar- benar merasa sebagai sosok pesakitan yang tak berdaya,…hiks……hiks…
Saya tidak bisa ngobrol banyak dengan mereka. Inginnya satu satu, bergantian saya mengobrol dengan mereka hingga lepas rasa rindu di dada ini…..hmm..
Tahu sendiri di rumah sakit orang tidak diperkenankan banyak suara apalagi bercanda tawa….dan ternyata kunjungan teman-teman yang sudah lama saya rindukan ini cuma berlangsung sekitar 10 menitan. Mereka akan melanjutkan menjenguk Nuti Indrawati yang kebetulan juga tengah sakit dan saat itu berada di rumah ibunya.
Pertemuan itu bagi saya seperti mimpi saja. Kalau saja diprbolehkan inginnya saya turun dan ikut dengan mereka menjenguk Nuti. Bagaimana tidak ingin ikut, Nuti adalah salah satu teman dekat yang sealiran (aliran sungai…x) Saya hanya bisa menghela nafas saja melepas kepulangan teman-teman dan membalas lambaian tangan Heru dan Oong, teman terakhir yang keluar dan menghilang dibalik pintu kamar rawat (saat itu saya tersenyum, ngagerentes dalam hati:” seperti ke anak kecil saja..”. ……tapi, pada kenyataannya, dulu, saya memang seperti perempun kecil dihadapan mereka….deuuuh…
Setelah pertemuan yang sekejap netra itu, tak dapat dibendung lagi, akhirnya saya hiks….hiks….hiks….Suami ngabeberah sambil seraya berkata:”Kapan-kapan, pasti bisa ketemu lagi.” Ya…kapan-kapan….duka teuing iraha atuh.
Sudah beberapa kali teman-teman ini mengadakan reunian, tetapi saya tidak pernah ikut, dikarenakan berbagai sebab musabab yang sulit dihindarkan.
Mengingat sulitnya saya bisa berkumpul dengan teman-teman jadul angkatan82 ini, akhirnya saya terbersit ide untuk menyediakan tempat yang sangat sederhana diawang-awang ini. Barangkali ada teman-teman yang kersa rurumpaheun kesini untuk sekedar melepas lelah, haus dahaga di tengah-tengah kesibukan yang yang mendera, di tengah terik matahari yang kian panas ini….eh ga nyambung ya….punten.
Terutama bagi teman-teman yang masih emut ka purwadaksi dan ingin merekat kembali tali silaturahmi yang terputus waktu dan berbabagai keadaan.
Tentu saja, seperti halnya saya, teman-teman ini tidak seperti dulu lagi, baik fisik maupun ruang lingkup kehidupan sosialnya, bahkan mungkin juga karakternya? Tapi yang jelas mudah-mudahan masih tetap baik hati, ramah dan tidak sombong.
Mungkin banyak pula diantara teman-teman ini yang super sibuk sehingga tak banyak waktu luang tuk sekedar “ngalunjar jajar” sejenak. Tapi, sekali lagi mudah-mudahan, diantara waktu yang serasa kurang dan sempit ini masih ada sedikit waktu untuk mengunjungi tempat alakadarnya ini, “sekedar refresing” ceuk Sri Mulyani mah. Tapi jangan lupa membawa urunan susuguhnya, mau makanan dan minuman ringan, makanan berat atau sembakopun boleh. Diantos.
dipost:lisfr













