> Ke III. papandayan via pangalengan 1

18/12/2008

…….yang masih teringat, saat itu hari sudah lewat magrib ketika kami serombongan (sekitar sepuluh orang) tiba di Terminal Cicaheum. Hujan mulai turun. Saya bingung ternyata hujan semakin deras. Tujuan perjalananpun jadi kabur, entah mau kemana jadinya. Pada mulanya ada beberapa tujuan yang kami rencanakan. Tetapi dengan hujan seperti itu kelihatannya teman-teman jadi ragu meneruskan perjalanan.

mengingat kondisi yang tidak mendukung itu beberapa teman mengusulkan untuk membatalkan perjalanan tersebut (kalau tidak salah saat itu adalah penghujung tahun. Tahun sebelumnya kami pernah kamping tahun baruan di Cikole. Ketika itu kami berencana mengakhiri tahun disuatu tempat yang sebetulnya belum kami sepakati benar lokasinya). Mendengar usulan itu saya agak kecewa, karena saya sudah ‘setengah mati’ minta ijin ortu untuk ikut perjalanan itu. Saya keukeuh agar perjalanan dilanjut saja karena hujan pasti akan reda. Sebagian teman yang lain sependapat dengan saya.

Kami sepakat berangkat naik bis ke Pangalengan, dengan tujuan Gunung Papandayan. Saya tak dapat mengingatnya bagaimana keadaan kami selama naik bis, dan entah melalui jalan/daerah mana saja karena perjalanan malam. Saya kira mungkin keadaan kami sedikit banyak basah karena kehujanan, mungkin juga ngantuk . Namun yang masih jelas saya ingat, sedikitpun saya tidak merasa lelah. Setiap mengikuti perjalanan saya merasa enjoy dan benar-benar menikmatinya apapun kondisinya. Saya kira demikian juga saat itu.

Entah berapa jam perjalanan naik bis, yang saya ingat dan tergambar dalam ingatan, yaitu kami turun di Terminal Pangalengan. Suasana terminal hampir sepi, kendaraan hanya beberapa saja, toko dan warungpun sudah banyak yang tutup. Maklum disebuah kota kecil Selanjutnya kami berjalan kaki ke arah Perkebunan Malabar. Jalanan aspal nampak hitam berkilat permukaannya bekas diguyur hujan. Langit lenglang dengan sedikit awan tipis, kelam. Kiri kanan rumah-rumah yang kami lalui sepi, hanya cahaya bohlam yang berpendar diteras dan pekarangannya. Kendaraan yang lewatpun sangatlah jarang. Saya menjelaskan kepada teman-teman, bahwa jarak ke gerbang perkebunan cukup jauh. Kalau siang biasanya ada beberapa kendaraan pikup perkebunan sebagai sarana angkutan warga perkebunan menuju pasar. Karena sudah malam, jangan berharap ada angkot yang bisa disetop dan mengagkut kami memasuki perkebunan. (th 81an saya pernah ppl di s pangalengan, jadi sedikit tahu tentang pangalengan)

Ketika kami tengah menyusuri jalan tiba-tiba dari arah belakang terlihat ada kendaraan melaju. Setelah tahu bahwa kendaraan itu sebuah truk kami segera melambaikan tangan, berharap truk berhenti. Dan truk pun berhenti. Tanpa fikir panjang lagi kami semua ngagarajleng naik gerobak belakang setelah minta ijin supir. Truk pun bergerak laju lumayan kencang. Angin dingin yang tersibak membuat seluruh tubuh kedinginan. Tercium kotoran ternak bercampur bau rerumputan busuk. Kami baru sadar ternyata truk tersebut rupanya truk pengangkut ternak, mungkin ternak sapi. Tentu saja sepatu-sepatu kamilah yang paling ‘menderita’. Tapi biarlah, daripada harus jalan kaki…

Melewati gerbang perkebunan truk berhenti. Sebelum truk berbelok kami semua turun. Dihadapan kami gelap gulita, hanya satu dua penerang yang berkelip dikejauhan. Kami meneruskan perjalanan lagi. Jalan kaki. Udara semakin dingin tapi terasa menyegarkan. Entah yang lain, bagi saya ini menambah sedikit kebugaran tenaga dan membuat mata rada bengras. Sambil berjalan diatas rumput pinggir jalan, spatu saya gosok-gosokan kerumput yang saya lalui, sekedar membersihkannya dari kotoran ternak yang mungkin nempel.

Ketika menoleh kebelakang dikejauhan terlihat sepasang lampu kendaraan menembus kegelapan malam, deruannya sayup semakin jelas memecah kesunyian alam perkebunan. Lampunya semakin terang seakan menembus sosok-sosok kami yang tersilaukan. Saya dan teman saya iseng melambaikan tangan saat kendaraan semakin mendekat. Ternyata kendaraan itu sebuah bis yang tampak sangat besar dan indah dengan lampu gemerlapan. Ditengah kegelapan dan kesunyian kedatangan bis seperti itu bagi saya ajaib. Ditengah keheranan itu, tiba-tiba pintu depan bis terbuka. Masih terheran-heran, ternyata sang kondektur mempersilakan kami masuk. Tanpa fikir panjang kami dengan suka cita masuk ke dalam bis. Interior di dalam bis tersebut serasa sangat mewah bagi saya yang kedinginan. Pencahayaan temaran kekuningan terasa menghangatkan. Dibawahnya beralas karpet berwarna maroon. Kursi-kursi nampak empuk dan bersih, kiri kanan berjejer dua dua ke belakang.

Teman-teman setengah berteriak kegirangan memilih tempat duduk masing-masing dan merebahkan diri sambil menyelonjorkan kaki, langsung tiduran. Sayapun tak lepas-lepasnya tersenyum kesenangan lalu duduk menyamankan diri. Bispun bergerak melaju perlahan menembus kegelapan….

Tak seorangpun diantara kami mempertanyakan kemana tujuan bis tersebut,…..sebuah bis mewah yang tiba-tiba muncul dibalik kabut kegelapan malam, ditengah perkebunan luas yang dingin dan sunyi, dan dengan begitu saja kami ikut, seolah tak peduli mau dibawa kemana…..

bersambung

foto: by hdmesa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: