> papandayan via pangalengan 2

18/12/2008


Entah berapa lama dan berhenti diperkebunan apa, kami akhirnya turun dari bis tersebut. Bis melaju, menghilang dari pandangan entah kemana menembus kabut yang semakin tebal. Seperti baru terbangun dari mimpi, itulah yang saya ingat. Saya kira perjalanan naik bis tersebut melampaui beberapa perkebunan. Perkebunan Santosa dan Talun tidak kami lalui selama melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki kemudian. Saya kira waktu sudah melampaui tengah malam ketika itu.

Kami menyusuri jalan lorong perkebunan. Kiri kanan tampak perkebunan bagai beledu gelap menghampar berlatar perbukitan bagai paya-paya hitam. Bintang di langit berkelip dibalik awan yang menebal, menabur kabut, kelam. Kami terus berjalan nyaris tanpa suara selain suara langkah kami. Bibir serasa kelu , ujung hidung dan jemari serasa kaku karena dingin semakin merasuk.

Kami melalui beberapa perkebunan yang tak saya ketahui lagi namanya. Pada setiap perkebunan saya lihat nampak sebuah bangunan besar, mungkin pabrik penampung, pengering dan pengepakan teh. Saya lihat juga disebelah bangunan besar itu ada rumah kuno, mungkin tempat tinggal kepala pabrik atau mandor. Ada juga deretan pemukiman kecil-kecil disekitarnya, mungkin itulah tempat hunian buruh perkebunannya. Dari kejauhan area itu nampak terang bagai gugusan bintang dilangit yang ribuan banyaknya, mirip sebuah distrik atau kerajaan kecil dilingkungi hamparan kegelapan. Saya sungguh takjub melihat keindahan pemandangan malam itu. Seperti di negeri dongeng Nurmala dan Oky di Majalah Bobo. Terekam, terikat erat dalam kenangan hingga saat ini.

Menjelang subuh, suhu uadara tengah dingin-dinginnya ketika kami melihat dikejauhan tiga sosok tengah berjalan memunggungi kami. Sungguh tak diduga, ternyata mereka adalah teman seangkatan kami yang mengadakan perjalanan dengan tujuan yang sama pula. Kami bergabung dan sama-sama melanjutkan perjalanan ke Gunung Papandayan. Ketika itu perjalanan kami sudah tidak jauh dari jalan setapak yang menuju ke arah Papandayan.

Seperti cerita-cerita sebelumnya, saya tidak begitu ingat kelanjutannya. Terlalu samar untuk diingat, sulit menuliskannya. Bayangan ingatan saya tentang lereng dan puncak papandayan dalam perjalanan ini, suka tertukar dengan bayangan ingatan perjalanan ke papadayan via cisurupan.

Sayapun benar-benar tidak mampu mengingat melalui jalan dan daerah apa ketika turun dari papadayan.

Menggunakan google map saya mencoba menelusuri perjalanan tersebut hingga ke fokus terdekatnya dari udara. Tapi tetap memori saya tak terpancing. Mungkin suatu saat saya 'perlu' napak tilas perjalan itu. Siapa tahu ingatan saya terbuka lagi. hemh…boleh juga untuk dipertimbangkan buat acara liburan akhir tahun ini … tamat

foto:by hdmesa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: