> Ke II. survival 1

19/12/2008

Perjalanan dimulai dari salah satu PLTA yang terletak sebelum Pangalengan. Di daerah ini terdapat dua PLTA yang dibangun sekitar Th 1920an, plta Plengan dan plta Lamajang. Tepatnya kedua PLTA ini terletak di blok Gunung Tilu, skitar 3 km dari situ Cileunca. Dibangun oleh KAR Boscha, seorang Belanda yang membuka perkebunan Malabar, membangun teropong bintang di Lembang(sekitar Th 1898 – Th 1928 Observatorium Boscha merupakan pemilik lensa teropong terbesar di dunia), membangun Gedung Merdeka (sosieteit concordia) dan mendirikan Technologie Hogeschool yang merupakan cikal bakal ITB sekarang. Itu semua merupakan sebagian dari 'sumbangsih' kedermawanan sarjana teknik lulusan Delf ini terhadap negri yang ketika itu dijajah pemerintahnya.

Entah naik apa dan tiba jam berapa, seingat saya kami menuruni lembah disebelah kanan jalan raya Pangalengan. Setelah menerabas berbagai semak dan pepohonan kami berkumpul di dekat pipa plta Lamajang yang tampak menjulur keatas bersandar pada tebing hingga ketinggian yang sulit terlihat karena gelapnya malam. Saya berikut rombongan peserta survival menaiki tangga yang terletak di samping kedua pipa air yang
berdiameter 1,5 m itu.

Selain memiliki tangga, pipa plta Lamajang difasilitasi jalur lori yang menghubungkan stasiunnya dengan ketiga ruang turbin dibawahnya. Lori tersebut memuat 10 orang penumpang berikut muatannya hingga mencapai tonan. Dengan kemiringan yang yang cukup curam, 70 – 80 derajat, lori ditarik turunkan dengan slip baja sepanjang sekitar 280 m. Karena perjalanan malam hari, ketika itu saya tidak melihat adanya lori tersebut (entah kalau dibagian inipun memorinya eror…)

Yang masih saya ingat, sekeliling saya nampak gelap. Lampu penerangan tergantung pada tiang dengan jarak yang cukup berjauhan. Udara terasa mulai dingin, tetapi karena bergerak, saya tak begitu kedinginan.

Ketika kami berbelok ke arah kiri, keluar dari tangga dan menjauhi kedua jalur pipa, saya tak berfikir ke arah mana dan sampai mana ujung pipa sepanjang 500 m itu dan tangga yang berjumlah 1400 buah anak tangga tersebut berakhir. Yang ada di kepala hanyalah mencari jalan yang harus kami jejaki dan lalui hingga mencapai tujuan yang saya sendiri tidak tahu akan finis dimana.

Pipa plta lamajang berakhir di ujung tebing hingga berhulu disebuah kolam penampung air yang berasal dari Cisarua, Cisangkuy dan Situ Cileunca. Dari sana air masuk ke dalam pipa dan mengalir ke bawah dengan derasnya, mampu menggerakan 3 turbin yang terletak dibawah tebing tersebut. Masing-masing turbin menghasilkan 6,52 MW.

Perjalanan dilanjutkan kearah perkebunan, sebelah selatan Situ Cileunca. Sakuriling bungking nampak kelam dengan langit biru menghitam. Kerlap kelip lampu rumah penduduk tampak satu dua dikejauhan. Gunung yang berderet dikejauhan berwarna hitam kelam disambung perkebunan berundak- undak dibawahnya, sama kelamnya. Ketika itu saya masih tergabung dengan kelompok beberapa teman seangkatan. Tak banyak bicara, kami mencari kearah mana jalan yang harus kami lalui.

Menjelang pagi kami tiba di dataran tinggi yang ditanami kentang. Udara pagi serasa menyegarkan walaupun tubuh masih juga ngadaregdeg. Perut mulai melilit lapar. Melihat beberapa orang petani tengah mencabuti kentang kami menghampiri mereka. Beberapa teman saya meminta beberapa buah kentang sambil celingukan, khawatir ada instruktur yang mengawasi. Saya meyakinkannya tidak seorang instrukturpun didekat kami. Bahkan peserta yang lainpun berpencar entah kearah mana. Karena lapar, beberapa teman saya (laki-laki) memakan kentang ternyata masih kehijauan, mentah-mentah. "Rasanya gak enak!",teriaknya. Tapi ditelannya juga. Kasihan. Saya berusaha menahan lapar dan haus dari pada nekad memakan kentang mentah itu. Kami tertawa-tawa dan berteriak-teriak bagai orang linglung sambil berlari mencari-cari teman yang sudah jauh meninggalkan kami.

Kedudukan matahari kira-kira menunjukan pukul sebelas. Intensita panasnya benar-benar terasa membakar kulit yang semula mengkerut kedinginan. Perut semakin seueul dan tenggorokan hanaang kehausan. Saat itu kami melewati perkebunan tomat bohlam, berbentuk lonjong. Pohon perdu itu dipenuhi buah-buah ranum berwarna hijau, jingga hingga merah. Saya berfikir ini baru buah yang layak untuk dimakan sekedar penawar haus dan lapar. Temanku memetikannya beberapa buah, semuanya dikasih ke saya. Hati saya senang bukan main seperti kanak kecil mendapat segenggam permen. Tak perlu celingak celinguk saya langsung menerimanya. Tetapi setelah saya perhatikan buah itu, sebelum memakannya, saya terkejut handeueul semu keuheul. Ternyata buah itu bukan tomat bohlam seperti yang saya duga, melainkan cabe gendot yang permukaan buahnya mirip sekali tomat bohlam. Tentu saja saya membuangnya. Teman yang memberikan buah itu langsung ngibrit lari sambil nyeungseurikeun, sebelum saya sempat ngambek. Gara-gara saya tidak mengenakan kaca mata minus jadinya tertipu. Yah dasar…memang harus benar-benar berusaha survive.

Sebetulnya sebelum berangkat, diam-diam sebagian teman sepakat membawa segandu gula merah buat jaga-jaga kalau tidak kuat. Tapi saya lupa dan kebetulan teman-teman kelompok saya(semua laki-laki)pun tdk membawa gula. Mereka malah menyembunyikan beberapa batang rokok di ranselnya, ketimbang gula.

Medan yg kami lalui tidak begitu berat. Kami lebih banyak melalui jalan setapak dan perbukitan yg tidak begitu curam dan taringgul.
brsmbung.
foto: by hdmesa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: