> survival 2

19/12/2008

Naik tangga plta Lamajang, saya rasa mungkin itulah medan yang lumayan memeras keringat. Tapi yang paling berat bagi saya adalah tidak boleh membawa makanan dan minuman.Menjelang petang hujan mulai turun. Saya berjalan sendirian memasuki jalan lorong perkebunan. Kiri kanan jalan dirimbuni pepohonan teh yang tengah berbunga. Diujung ranting-rantingnya tampak bunganya merah kecoklatan. Dengan di tutupi ponco saya terus melanjutkan perjalanan, hingga tak saya sadari, saya terpisah dari teman-teman. Saya lebih terbawa suasana alam yang tengah diguyur hujan.

Langit berangsur cerah setelah hujan mereda. Sekalipun memakai ponco, jeans dan kaos yang saya kenakan kebasahan juga, begitupun ransel. Ditengah perjalanan sendiri itu ada rasa khawatir kesasar. Hujan tinggal gerimis, tetapi saya semakin kedinginan karena angin yang berhembus kencang menyingkap-singkapkan ujung-ujung ponco yang saya pakai.

Akhirnya saya melihat seorang teman yang tengah berteduh di saung penampungan teh. Tangannya ngadaregdeg bersilang di dada, menahan kedinginan. Suara gemeletuk giginya dikeraskan saat saya menghampirinya. Saya senang sekali melihatnya. Sambil bercanda menawarkan rokok dia menyulutnya dan menghisapnya sendiri. Bukan rokok yang saya ingainkan, tapi sepiring nasi hangat beserta daging gepuk dilengkapi secangkir teh manis dan sehelai selimut tebal…..!?

Saya bersandar pada tiang penyangga saung. Rasa dingin yang selama kehujanan melengkapi rasa lapar, semakin terasa merasuk keseluruh tubuh saat saya akhirnya terduduk di tanah basah. Mulut terasa paal karena meminum air hujan. Saya baru menyadari betapa lelahnya, betapa perihnya dan dinginnya. Rupanya ini yang dinamakan salatri dan kabulusan itu. Saya terbuai halusinasi rasa hangat nyaman yang semu. Ibarat orang kehausan digurun gersang melihat riak-riak air.

Menyadari kondisi saya seperti itu, saya berusaha berkonsentrasi dan bertahan agar tetap sadar, agar tidak pingsan. Entah apa saja yang dibicarakan teman saya, dia tak menyadari bahwa saya tengah melawan kelelahan yang amat sangat. Saya berusaha hanya tersenyum saja seakan saya mendengarkan dengan baik apa yang dibicarakannya.

Setelah beberapa saat terduduk, bersandar, beristirahat, tumbuh kekuatan yang berangsur mampu menghangatkan tubuh yang semula kedinginan. Matahari yang lingsir ngulon mengintip dibalik awan keperakan menyilaukan. Langit nampak cerah ditaburi awan repih yang tipis putih.

Kami melanjutkan perjalanan setelah hujan benar-benar reda. Meskipun lambung tetap perih tetapi bentangan alam yang begitu indahnya di depan mata, mengaburkan rasa sakit itu. Gunung-gunung, mulai dari Malabar hingga Papandayan tampak jelas permukaannya dipenuhi pepohonan lebat berwarna biru tua kehijauan. Perkebunan teh layaknya permadani menutupi seluruh perbukitan. Barisan pepohonan pinus menambah sieup hamparan kebun teh dan pegunungan.

Saya sempat mengabadikan pemandangan itu dengan kamera jadul saat itu. Selain, tentunya, merekamnya dalam ingatan…

Selanjutnya, sungguh, saya tak mampu mengingatnya lagi, kearah mana tujuan kami, berkumpul dimana, kegiatan apa saja yang kami lakukan selama diklatsar lapangan itu. Bahkan saya tak ingat pukul berapa, naik kendaraan apa dan melalui daerah mana kami semua kembali pulang ke Bandung. Hanya itulah yang masih terbayang dalam ingatan saya.
foto: by hdmesa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: