penjual balon

20/11/2009

Pagi-pagi dipersimpangan jalan bunderan, saat aku duduk di bangku tukang bubur ayam, istirahat sejenak setelah mengantarkan anak-anak ke sekolah…..ku lihat dua anak laki-laki tanggung jalan beriringan. Tangan mereka menggenggam sebentuk pegangan yang menyimpulkan benang tali segerumbul balon gas. Jumlah balon yang mereka bawa cukup banyak, berwarna warni, berhimpitan kian kemari tertiup angin pagi. Mereka berjalan melintasi ku ke arah salah satu jalan perempatan bundaran ini.
Melihat apa yang mereka bawa, tentulah anak-anak itu penjual balon gas. Penampilan mereka nampak dekil, meskipun rambutnya tampak kelimis. Yang satu berambut cepak, yang satunya lagi cepak tapi berjambul lurus kedepan, nge-punk berwarna coklat muda, layaknya gaya anak-anak abg seusianya. Sebetulnya, gaya anak inilah yang semula mencuri perhatianku pada mereka.

Celana jin belelnya digulung hingga betis, demikian juga anak satunya yang cepak. Terlihat dari kakinya yang tidak mengenakan alas kaki, bahwa mereka habis menempuh jalanan becek. Kaos oblongnya pun lusuh. Warna kulit mereka coklat kehitaman karena terbakar terik matahari. Mereka berjalan cepat sambil sesekali pandangannya celingak celinguk melihat keramaian di jalan bundaran ini. Mungkin juga mencari-cari sasaran jualannya, yaitu anak-anak. Tapi sepagi ini, sepertinya belum ada anak-anak yang mereka maksud…..

Disisi lain bundaran, banyak anak-anak berseragam sekolah. Mereka tengah menunggu mobil angkutan yang berbalik arah keluar bunderan. Ada juga yang menunggu mobil jemputan sekolah.

Penampilan anak-anak ini tentu saja rapih dan bersih. Selain berseragam, bersepatu dan menyandang tas, sebagian dari mereka menggegam ponsel. Seragam mereka berwarna putih-putih, putih-abu, putih-biru, putih-merah tua, tetapi ada juga yang putih-kotak2 biru seperti seragam sekolah yang dikenakan salah satu anaku yang masih SMP.

Selain itu, banyak pula bapak-bapak dan ibu-ibu, tua muda, berjalan menuju bunderan, mereka sama sama hendak naik angkot.

Berbagai kendaran lainpun melintasi bundaran kearah gerbang keluar kampung, mobil pribadi, motor ‘pribadi’ dan ojeg. Tukang penjaja makanan sarapan pagipun sibuk melayani pembeli, seperti tukang lotong sayur,
nasi uduk, kue-kue dan tukang bubur tempat aku sekarang nongkrong.

Inilah aktifitas rutin setiap pagi hari kerja di bunderan. Namun dari sekian geliat aktifitas yang berlangsung, penjual balon itulah yang menarik perhatianku. Serasa pikiranku melayang mengikuti mereka. Entah kemana mereka menjajakan balonnya sepagi ini. Mungkin dari rumah ke rumah di kampung ini, berharap ada anak anak merengek meminta dibelikan balon….Atau mungkin mereka hanya melintas, meneruskan perjalanan ke kampung dan tempat-tempat lain yang ramai, tempat yang banyak anak-anak kecil…Entahlah.

Walau hanya sekilas, wajah kedua anak itu membekas dalam pikiranku. Bahkan perasaan ku. Sorot mata mereka tajam, guratan wajah menyiratkan semangat serta keluguan layaknya anak-anak seusianya. Seperti kedua anak ku yang kini baru abg. Mereka serba ingin tahu dan gejolak keinginan yang kadang sulit diarahkan. Barangkali anak anak itupun sama. Tetapi bedanya, kedua anak itu mungkin sekali tidak bersekolah lagi.

Diusia tanggungnya itu mereka berkeliling kampung menjajakan balon gas, mencari penghasilan hidupnya sendiri. Tak ada rasa riskan apalagi malu dan malas. 180° berbeda dengan keberadaan anak anak ku yang segala sesuatu hanya tinggal minta pada orang tua.

Ada perasaan getir dan pahit dalam dadaku. Rasa sayang dan kasihan, juga kekhawatiran akan nasib masa depannya…..Banyak sekali anak anak yang kurang lebih senasib seperti mereka dibelahan kampung…kota….negeri….di dunia ini….

Aku merasa seperti orang tiada guna pagi ini. Duduk sendiri dengan pikiran melayang ke anak anak itu. Bubur ayam telah ku habiskan sejak tadi….

Ingin rasanya ku kejar kedua anak itu yang kini entah sampai dimana. Aku cuma berpikir saja, hanya berempati saja….tiada guna memang. Perasaan seolah termakan pikiran sendiri akan keberadaan nasib kedua anak itu. Namun di lubuk hati aku berharap, berdo’a, semoa Tuhan memudahkan rijki dan perjalanan hidup mereka…menjadi manusia-manusia yang berguna di kemudian hari….

Akan tetapi pada kenyataannya, kehidupan yang terlihat kadang tidak seperti tampaknya. Yang terlihat sengsara karena kemiskinan belum tentu tidak bahagia dan menderita.
Yang nampak hidup senang karena bergelimang harta belum tentu bahagia.

Kesulitan hidup saat ini belum tentu melahirkan kesengsaraan di waktu mendatang. Begitupun sebaliknya, kemudahan hidup saat ini belum tentu mengantarkan pada keberhasilan dan kesuksesan hidup di saat nanti.

Kesenjangan kehidupan yang nyata didepan mata ini memberi kesadaran untuk semakin peduli pada sesama yang kehidupannya kurang beruntung…. Terkadang dan bahkan seringkali kesenjangan itu begitu vulgarnya terpampang dihadapan dan di sekeliling kehidupan ini….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: