musim pun berganti 1

27/02/2010

Bulan-bulan terakhir ini hampir setiap hari hujan turun. Seringkali hujan disertai angin sangat kencang dan petir menyambar-nyambar. Gelegarnya seakan merobek angkasa, kilatannya menghujam bumi, melecut apapun yang merintangi. Selama musim hujan ini, tanah yang semula kering retak-retak telah berubah menjadi tegalan rumput dan perdu, becek dan berlumpur. Deretan pepohonan pinus menuju perkampungan semakin lebat dan tinggi. Begitu juga pepohonan sengon, melinjo, rambutan dan berbagai pohon buah-buahan semakin rimbun. Tanaman singkong yang menutupi sebagian besar perbukitanpun nampak kian menghijau subur. Udara terasa lembab karena langit senantiasa tertutup awan mendung.

Aku…tiba-tiba jadi teringat Maesaroh, gadis kecil yang kulitnya hitam namun bergigi putih agak tonggos. Berpuluh tahun lalu….Dia di bawa dari kampung salah seorang pelayan yang menemani nenek berjualan di pasar. Dari sebuah kampung nun jauh di ‘pakidulan’. Dia di bawa ke rumahku untuk menemaniku mengasuh ketiga adikku yang masih balita dan membantu pekerjaan ibuku
di rumah.

Eroh (panggilanku untuknya) seringkali bercerita tentang kampungnya….Apabila musim hujan, pagi-pagi sekali dia selalu pergi ke tepi hutan bersama adik-adiknya untuk mencari supa (jamur). Berbagai macam supa akan dia temukan dan memungutnya untuk dimasak sebagai lauk pauk. Supa-supa tersebut dengan mudah ia temukan di bawah rindangnya pepohonan besar tepi hutan maupun di kebun-kebun. Supa bulan biasanya tumbuh di tanah merah, supa lember di kayu dan bambu yang sudah lapuk, supa rampak dia ambil dari gedebog batang pisang yang sudah mati, sedangkan supa beas di tumpukan batang pohon singkong yang sudah di panen.

Menurutnya jamur-jamur itu lebih enak daripada daging ayam, terutama supa bulan yang bertudung payung sebesar mangkok bakso dan supa beas yang kecil-kecil pipih sebesar kulit kerang. Jamur-jamur ini biasanya di tumis atau di sayur bening. Dia bercerita lengkap dengan penuturan cita rasanya yang dikatakannya sungguh lezat, membuatku penasaran ingin sekali merasakannya.

Cerita itu dan berbagai cerita lainnya dia tuturkan disaat menjelang kami tidur. Dia tidur disamping tempat tidurku, beralaskan tikar dan kasur kapuk yang di gelar ketika dia hendak tidur saja. Maklum rumah orang tuaku kecil, hanya ada dua kamar tidur. Kamarku dengan tempat tidur berdua adikkupun kecil. Semua ceritanya mampu kubayangkan sesuai imajinasiku. Aku serasa masuk kedalam alur setiap ceritanya yang penuturannya sederhana namun menyenangkan dan mudah ku cerna. Tak jarang kami dan adikku yang juga ikut mendengarkan tertawa-tawa jika ceritanya terasa konyol dan menggelikan.

Aku membayangkan alangkah menyenangkan hidup di desanya. Sebuah desa terpencil yang dia sebut kampung bojong asih. Terbayang hutan-hutannya tempat dia mencari kayu bakar, pucuk pakis, buah petai yang sudah jatuh dan jamur. Juga kebun-kebunnya, pohon buah-buahan liar yang bisa dipetiknya kapapun dia mau dan sungainya yang berbatu besar-besar berair dingin serta jernih tempat dia berenang sesukanya. Tidak seperti dipemukiman tempat tinggalku saat itu. Sebuah pemukiman padat yang dibatasi berbagai gang kecil. Hampir tak ada halaman tempat bermain selain pekarangan rumah orang di pinggir jalan. Pepohonan yang bisa aku naikipun sangat jarang, itupun hanya pohon jambu biji tetangga yang lumayan pelit dan galaknya terhadap anak-anak sebaya aku, karena anak-anak memang suka iseng-iseng mencurinya. Apalagi sungai berair jernih yang bisa dijadikan tempat berenang, suasana dikampung Eroh tak ada ditempatku.

Kecuali, diseberang belakang pemukiman tempatku tinggal, masih ada hamparan pesawahan yang yang cukup luas, di aliri sebuah sungai irigasi yang cukup lebar. Namun melihat pertumbuhan kota yang terjadi saat itu, areal pesawahan mulai terdesak pemukiman. Air sungai irigasipun sudah lama terpolusi limbah berbagai pabrik, terutama pabrik tenun dan pencelupan yang banyak terdapat di sepanjang jalan depan pemukiman tempat tinggalku. Cerita Eroh saat itu mewakili kerinduanku akan sebuah kampung asri yang tidak aku rasakan apalagi memiliki…

Maesaroh tinggal bersamaku hanya sekitar dua tahunan. Ketika aku masuk kelas dua esempe dia diambil bapaknya, akan di bawa ke Jakarta. Eroh bilang kepadaku, bahwa dia akan menemani bibinya berjualan makanan di ‘beos’. Tapi menurut nenekku, itu hanya alasan bapaknya, padahal kemungkinan besar dia akan dikawinkan dengan lelaki pilihan orang tuannya di kampung. Entahlah mana yang benar. Yang jelas aku merasa kehilangan Eroh yang pintar bercerita itu.

bersambung……

Iklan

3 Tanggapan to “musim pun berganti 1”

  1. Salam untuk sahabat… berkunjung untuk tetap menjaga silaturahmi… semoga dalam keadaan yang indah…

  2. setiap episode kehidupan menyimpang cerita yang menarik. berbahagialah orang-orang yang bisa menuturkan dengan baik dengan kesan yang mendalam. orang-orang itu adalah bunga mekar yang mencerahkan hidup dan harapan orang lain.

  3. Kunjungan dari bogor ke tempat sobat, semoga bisa bertandang ke blog saya :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: