musim pun berganti 2

12/03/2010

Tahun demi tahun berlalu, musimpun silih berganti puluhan kali, berbagai peristiwa datang dan pergi meninggalkan jejak kenangan. Eroh entah berada dimana, namun sekelumit kenangan ceritanya jadi begitu terasa saat ini.

Kini aku tinggal di sebuah kampung yang ku kira sedikit banyak mirip dengan kampung Eroh, yang pernah mengendap dalam ingatan dan menjadi imajinasiku. Hanya saja disini tak ada sungai lebar berbatu besar-besar berair gunung yang jernih. Tapi setidaknya di sekitar rumahku banyak pepohonan rindang, perbukitan landai, ladang singkong, tegalan alang-alang dan tiga danau kecil/setu berair jernih. Dan yang paling aku suka, disepanjang jalan menuju kampungku berderet pohon pinus yang tumbuh subur menjulang tinggi. Bagiku ini sudah mewakili perwujudan kampung angan-angan kecilku dahulu….

Tentang supa…seandainya aku mencari-cari mungkin akan ku temukan juga berbagai macam supa disini. Tapi tentu saja tak terpikir untuk menemukannya saat ini, selain hanya merasa terhanyut oleh memori tentang cerita supa Eroh saja.

Tentang ‘beos’…nama tempat yang disebut Eroh, tempat yang akan menjadi tujuannya waktu itu…tak lain, adalah stasiun kota Jakarta. Selama tinggal disini sebetulnya aku sering ke beos. Stasiun itu ku tempuh sekali jalan naik kereta api listrik. Tetapi meskipun sering, selama ini tak pernah terlintas dalam pikiranku tentang Eroh di beos, apalagi mencarinya. Tujuanku ke beos adalah berbelanja pernak pernik bahan untuk membuat boneka dan mainan, yang banyak di jual di grosir grosir tak jauh dari stasiun.

Disaat inilah, saat menyadari musim hujan akan berakhir…entah kenapa aku jadi teringat Eroh dan beos. Kenangan ceritanya begitu saja muncul dalam fikiran dan benakku…seolah menyeruak diantara berbagai kenangan yang telah lama mengendap dan nyaris terlupakan.

Waktu itu, belum tentu Eroh benar-benar di bawa ke Jakarta untuk membantu bibinya berjualan makanan di beos, bisa jadi dugaan nenek ku benar, Eroh di nikahkan dan tinggal di kampungnya. Dimanapun Eroh berada kini, suatu yang tidak mungkin ku temukan seandainya aku ingin mencarinya…karena rasa rinduku padanya saat ini. Sekalipun Tuhan memepertemukan kami secara tak terduga…tentu saja guratan dan pahatan usia telah menghapus sosok dan wajah masa kanak-kanak kami dalam ingatan, sehingga kemungkinan besar kami tidak akan saling mengenali.

Beberapa hari terakhir ini sudah jarang hujan turun, dan tidak selebat sebelumnya. Langit lebih cerah karena matahari tak melulu tertutup mendung. Deretan gunung tampak jelas biru kehijauan, melatar belakangi perkampungan, perbukitan, rimbunan pepohonan dan danau.

Mendengar berita…bahwa musim kemarau kali ini akan lebih cepat datang dan lama. akibat pemanasan global memang sudah mulai terasa di seluruh muka bumi. Pola cuaca tak semenentu dulu-dulu. Bahkan di berbagai tempat terjadi perubahan suhu yang cukup ekstrim dari dingin ke panas, begitu juga dengan curah hujan. Menurut para ahlinya, ini lebih disebabkan karena kadar polusi yang sudah melampaui batas serta semakin berkurangnya kawasan hijau.

Kampung ini hanyalah sebagian kecil dari kawasan hijau yang tersisa di pinggiran megapolitan Jakarta. Keberadaannya semakin terdesak perkembangan kota. Sisa-sisa perkebunan karet yang dulu pernah ada sudah tak terlihat lagi. Berbagai perkebunan tanaman keras lainnya dibabat dijadikan perumahan berbagai pengembang. Bahkan bagian pinggiran danau yang dangkal
pun
perlahan namun pasti diurug demi kepentingan pengembang tersebut. Sedianya ketiga danau ini adalah penampung air dikala musim hujan. Tak mengherankan jika setiap tahunnya banjir kiriman semakin meningkat melanda kota Jakarta.

Entah sampai kapan kampung yang sudah menjadi bagian hidupku ini mampu mempertahankan diri dari expansi pengembangan kota.

Sebentar lagi musim kemarau….meskipun matahari esok-esok hari berikutnya akan terasa lebih terik dan suhu udara memanas…namun pepohonan rindang di sekeliling rumahku akan senantiasa menjadi peneduh. Setidaknya hingga selama ini. Semoga selamanya…dari tahun ke tahun…musim ke musim…dan dari berbagai peristiwa, yang akan datang dan akan pergi…

Iklan

4 Tanggapan to “musim pun berganti 2”

  1. tirtamijaya said

    Kiara, asswrwb…
    Trims atas kunjungannya keblog saya yang begitu antusias dan aspiratif…
    Ternyata anda berbakat seniman, tulisannya bagus …
    Saya kagum anda sebagai ibu rumah tangga bisa memahami tulisan saya yang relatif agak berat utk difahami oleh orang awam….
    Sekali lagi trims atas kunjungan dan komentar anda…

  2. rainbroccoli said

    Tulisannya bagus banget..
    tapi memang harus agak konsentrasi untuk memahami isinya ya..
    Salam kenal..
    Kalo ada waktu silakan gantian berkunjung ke tempat saya ya..
    Makasih :)

  3. Kunjungan perdana Sobat,
    Lam kenal…

  4. Ceritanya bagus Mbak, lum sempet baca sampe habis tapi, aku save as dulu ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: