Teman Semasa Kecil

13/02/2012

Kenangan ini terjadi lebih dari tigapuluh tahunan yang lalu. Suatu malam saya mendengar suara tangisan teman saya dari balik dinding yang terbuat dari papan dan bilik rumah sebelah. Mulanya saya tak peduli, tetapi setelah mendengar rengekannya saya terdiam dan mendekatkan telinga ke bilik.
“Mak…Atang hayang sakola…heu…heuuu…” Tak terdengar apapun jawaban dari sang emak. “Emak…! Atang hayang neruskeun sakola..! Nya mak?” Diulang lagi, lebih jelas permintaannya. Belum juga terdengar jawabanya, hanya tangisan yang sesenggukan. “Sabar Tang,….” akhirnya terdengan jawaban singkat emak. Tangisan teman saya itu masih terdengar hingga larut malam…

Ketika masih duduk di sekolah dasar saya mempunyai banyak teman, terutama teman tetanggaan yang usianya sebaya dengan saya. Kami ‘mempunyai’ berbagai permainan, mulai adu gambar, plastik, karet, kelereng hingga tebak tebakan biji buah tanjung. Permainan ketangkasanpun banyak, mulai dari galah jidar, galah lapang, pris2an, sondah, bekel, balap sepeda, petak umpet hingga ‘ketangkasan’ metik jambu tanpa ketahuan pemiliknya. Ada juga keisengan lain yang tak kalah serunya yaitu mengganggu Bah Boce yang pasti marah besar kalau kami naik benteng halamannya untuk sekedar melihat ayam-ayam jago adunya yang dikurung didalamnya. Atau mengganggu ‘ketenangan’ Nenek Eneh, bermain petak umpet atau pris2an di samping rumahnya yang cukup luas. Permainan itu membuat Eneh keberisikan, kemudian dia pasti akan keluar dengan mengacung-acungkan sapu lidi, menghardik anak-anak yang akan lari terbirit-birit sambil tertawa… Baik Eneh maupun Bah Boce sama2 sudah tua dan tidak mempunyai anak, tetapi galaknya minta ampun. Keisengan lainya yaitu menyapa Babah Torek(dipanggil torek karena pendengarannya sudah tuli) kalau dia lewat di depan rumah. Terutama Atang, yang ‘gemar’ menyapanya. Biasanya dia menyapa begini “Hei..! Babah…! Pasti torek nya..!”, Atau begini ” Pasti eta Babah Torek nya…!”. Saya dan teman2 yang lain akan tertawa terpingkal2 melihat reaksi sang Babah yang menatap kami sambil mengangguk2 dan selalu tersenyum itu….

Atang merupakan jagonya dalam berbagai permainan. Jumlah kelereng, gambar, karet dan plastiknya sangat banyak. Jumlah itu dia miliki dari hasil mengadu dengan teman2. Dia tidak pernah beli tetapi justru menjual benda2 permainan itu dengan hasil yang lumayan buat jajannya. Kadang dia ditantang ‘ngadu’ oleh anak2 dari luar kampung kami, terutama ngadu gambar dan kelereng. Yang membuat saya dan teman2 dekat lainnya suka ke dia, adalah sikapnya, tidak pernah curang dalam permainan, kadang suka membagi-bagikan hasil permainanya. Perangainya kocak, ada2 saja cerita/obrolan yang membuat saya n teman2 tertawa ngakak…raut wajahnya tampan, postur tubuhnya bagus dan larinya kencang. Semua anak bahkan para orang tua kami menyukainya.

Saya sekolah di SD kidul dan dia di SD kaler. Saat lulus dari SD saya di daftarkan ibu ke SMP swasta yang tak jauh dari lokasi SD saya. Keinginan saya masuk SMP negri tidak kesampaian alias tidak lulus testing. Demikin juga dengan Atang, diapun tidak lulus tes ke smp yang di inginkannya. Mungkin karena faktor biaya Atang tidak didaftarkan ke smp swasta manapun. Karena itulah di malam itu saya mendengar tangisannya. Suatu hal yang bagi saya sangat aneh, kok dia bisa menangis seprti anak perempuan. Kalau saja belum larut ingin sekali saya masuk ke rumahnya untuk sekedar menghiburnya, atau mungkin menggodanya….

Setelah saya menceritakan apa yang saya dengar semalam ke ibu, esok harinya Ibu saya menceritakan sekolah SMP yang akan saya masuki ke Emak dan Apa nya Atang. “Uang pendaftaran bisa dicicil mak, dan sppnya terjangkau. Karena itu anak saya didaftarin kesana, lagi pula dekat, anak2 bisa jalan kaki. Tempatnya di seberang jalan sd nya Atang.” Penjelasan ibu saya itu bukannya tidak dimengerti orang tua Atang, walau sangat sedih dan merasa kehilangan saya tahu alasanya mengapa akhirnya Atang dibiarkan orang tuanya, di bawa kakaknya ke Ciateul, yaitu daerah dekat alun-alun Bandung, untuk diajak kerja di konveksi pakaian…..

Di’jaman’ itu, masuk kesekolah negeri sangat sulit. Dulu saya tidak mengerti mangapa seperti itu. Sekalipun nilai ijazahnya tinggi jangan harap bisa masuk kalau tidak punya koneksi dan sejumlah uang sogokan. Beberapa tahun sebelumnya Bapakpun pernah mengalami hal yang sama, yaitu ketika beliau mengikuti secapa. Ketika itu th 70-an, saya mencuri dengar ketika malam-malam Bapak ngobrol dengan Ibu, Bapak diminta menyiapkan uang sejumlah 60.000 rupiah…Belakang saya mengetahui ternyata Bapak tidak lulus. Tapi saya tidak begitu memikirkan apakah itu ada hubungannya dengan ketidak mampuan Bapak menyiapkan uang sejumlah itu.

Begitu mengetahui saya tidak lulus masuk SMP negri, Bapak merangkul saya. Waktu itu saya biasa2 saja, toh saya masih bisa sekolah. Saya sedih justru mengingat nasib teman saya, putus sekolah…dan di bawa kakaknya untuk belajar kerja….padahal dia pintar dan sangat cerdik…

Hampir sepuluh tahun kemudian, masuk ke sekolah negri berdasarkan nem asli, bukan berdasarkan testing lagi. Dengan peraturan baru tersebut, Alhamdulillah ke dua adik perempuan saya berhasil lulus ke SMP negri yang dulu pernah saya inginkan. Kemudian setelah lulus SMP mereka pun lulus masuk ke SMA negri sesuai dengan hasil NEM asli yang cukup tinggi.

Kini setelah berpuluh tahun kemudian, pekerjaan yang saya jalani pada akhirnya hampir sama seperti yang di jalani Atang saat ini. Sekalipun saya mampu melanjutkan sekolah, dan ‘sempat’ lulus dari perguruan tinggi negri di Bandung, setelah menikah saya memilih membuka usaha pakaian ketimbang jadi pegawai. Sedangkan Atang kini membuka usaha jahitan dan cukup terkenal, dirumahnya yang bersebelahan dengan rumah ibu saya yang dulu di Bandung…:)

Iklan

Satu Tanggapan to “Teman Semasa Kecil”

  1. Hemmmm … jadi ingat main pris2an sampai bertabrakan dan kepalanya jendol hehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: