Rencana

15/02/2012

“….tetapi aku tidak tahu, apakah itu rencana masa tua kami atau hanya angan sesaat belaka, yang akan dengan mudah hilang begitu situasi dsan kondisinya berubah…? Jujur saja, aku tidak bisa menjadikan obrolan itu sebagai suatu harapan, apalagi pegangan. Walau kurasakan juga ada sedikit kehangatan mengalir disanubari, mendengar penuturan rencananya melalui telepon jauh dari seberang sana…”

Seharusnya pagi ini mengantar anak bungsuku ke sekolah. Sakit kepala yang rasanya tak juga sembuh, mengahruskan tubuhku istirahat saja. Meskipun begini tetap saja aku tidak bisa diam, karena fikiranku jadi ‘kian kemari’ gara-gara nonton tayangan film di TV. Akhirnya aku duduk, berharap terkumpul semua isi fikiranku disini, di halaman blog ini.
Tadi, ketika membereskan tempat tidur, ku nyalakan TV, kulihat film koboi lawas di chanel MGM. Mulanya tak kuperhatikan, bahkan hendak ku alihkan ke chanel berita, tetapi melihat tayangan pemandangan di film membuatku terduduk dan terpesona. Dalam film itu, ku lihat pepohonan oak yang tinggi-tingi dan besar-besar, sungai berair jernih dan bukit batuan solid berwarna merah kecoklatan. Pemerannya berakting cukup membuatku terkesan. “Apa yang akan kita cari setelah ini?”, tanya sang aktris kepada sang aktor. “Mungkin kita akan ke California”. Jawab sang aktor. Mereka tengah duduk berdampingan di pinggir sungai, di bawah pohon rindang. mereka merupakan sepasang kekasih yang tengah dalam perjalanan mencari tempat yang nyaman untuk melanjutkan hidup setelah mengalami pertempuran antar kelompok di kota.

Aku tidak tahu awal ceritanya, tetapi dialog kedua pemeran film itu mengingatkanku pada obrolan ku dg suami dua malam lalu via telepon seluler. Tak biasanya kami membicarakan tentang rencana, atau tepatnya berupa angan-angan, atau bisa jadi hanya impian saja. Kami ngobrol sangat lama. Serasa ngobrol dengan teman lama yang sudah sangat lama tidak bertemu. “Saya ingin suatu saat nanti, setelah pensiun, tinggal di kampung…”, tiba-tiba suamiku mengungkap keinginan di sela-sela obrolan tentang keadaan anak-anak. “Rumahnya ga usah besar, tetapi tanahnya yang luas…bisa untuk bercocok tanam, beternak, bikin kolam…pokoknya yang bersuasana kampung lah…yang tenang.”Paparnya lebih lengkap. “Kalau bisa, saya ingin menjadi guru atau semacam instrukturlah, kalau ga di politehknik ya dimana sajalah. Buat ngisi waktu.” Sambungnya.”Boleh juga itu, pengabdian dimasa tua gitu ya?,” Aku menyetujuinya.

Aku melihat pemeran perempuan di film tadi itu begitu natural. Binar matanya menyiratkan kebahagiaan atas rencana yang diperbincangkan dalam dialognya bersama sang aktor. Demikian juga sebaliknya dengan akting sang aktor. Mereka berencana pergi kesuatu tempat yang aman dan nyaman. Suatu tempat yang diharapkan membuat hidup mereka terikat dan memulai suatu kehidupan baru…terbebas dari kehidupan mendebarkan yang baru saja mereka jalani.

Apakah mataku berbinar-binar ketika mendengar rencana suamiku dua malam lalu itu? Entahlah… Walau ada sedikit rasa hangat yang menjalar di sanubari, namun entah kenapa aku tidak mau gegabah menjadikan obrolan itu sebagai suatu rencana yang pasti akan kami jalani di masa tua nanti. Aku masih beranggapan itu cuma angan-angan, atau bahkan impian belaka, atau bahkan bisa jadi semacam ilusi disaat segala pengharapan masa lalu yang pernah mengendap nyaris sirna tergerus waktu, situasi dan kondisi.

Yang aku pelajari dalam hidup ini, segala sesuatu itu tidak ada yang pasti. Segala sesuatu bisa berubah tanpa kita sadari atau disadari, sengaja atau tidak sengaja. Begitu juga dengan perkataan seseorang. Siapapun orang itu, bahkan dari orang terdekat dalam hidupku selama ini. Bisa jadi perkataan seseorang bisa dipegang, tetapi situasi dan kondisi kehidupan terkadang mampu mengubahnya. Apakah karena memang sudah nasib? atau karena takdir kehendak Nya? Ya…Aku mengimani bahwa semua yang memastikan segala sesuatu menjadi kenyataan adalah kehendakNya, ketentuanNya. Hanya kehendak Allah saja yang bisa kujadikan pegangan, bukan apa kata, rencana dan kehendak siapapun, bahkan tidak juga kehendak ku sendiri. Aku hanya sekedar berusaha dan menjalani sebaik yang ku mampu, dan berusaha tetap enjoy menjalaninya. Menikmatinya.

Dimalam itu, karena begitu lamanya kami ngobrol, akhirnya kehabisan topik obrolan. “Ngobrol dong…apa saja…saya senang sekali ngobrol lama-lama begini.” Pinta suamiku. Aku bingung harus ngobrol apa lagi. Soal sekolah dan kesehatan anak-anak sudah, soal keadaan rumah sudah, menanggapi rencana masa tua juga sudah….”Oh iya, saya mau cerita tentang anak sulung kita yang kini tengah jatuh cinta lagi, setelah dihianati pacarnya yang lalu itu…”, akhirnya ku beberkan tentang sikap dan perasaan si sulung yang akhir-akhir ini tengah berbunga-bunga. Suamiku menanggapi biasa-biasa saja, mungkin dia tersenyum mendengarnya, padahal aku cukup respek terhadap keberadaan perasaan anakku ini. Maklum aku sebagai seorang ibu, mungkin lebih sensitif ketimbang bapaknya.

Benar saja…rencana hidup yang sudah deal akan ditempuh bersama, sepakat, sepaham, ternyata bisa gagal dalam sekejap! Dalam sebuah film alur cerita ditentukan sang sutradara, bukan kehendak pemainnya. Dan tanpa ku duga ternyata sutradara di film koboi itu mengakhiri cerita dengan akhir yang menyedihkan, bukan berakhir dengan kebahagiaan seperti yang aku kira sesuai harapan sepasang kekasih film koboi itu. Sepasang kekasih itu tiba-tiba disergap segerombolan koboi yang ternyata tidak berhenti memburunya. Entah kenapa, karena aku tidak tahu cerita awalnya, sepasang kekasih yang tengah mencari dan berharap suatu tempat untuk memulai hidup bersama itu di tembak mati saat berusaha melarikan diri ke arah gurun pasir…jasadnya tergelak begitu saja…diakhir tayangan, kedua sosok di tengah padang pasir itu berubah jadi sebuah foto berkertas kasar kecoklatan, buram dan bergaris-garis, tampak seperti selembar foto tua yang sudah usang, the end.

Entah apa yang akan terjadi terhadap hidupku esok? Apapun rencana hidup kami kedepan segalanya ku pasrahkan kepada Nya saja. Seperti biasanya kujalani hari demi hari, bekerja dan mengabdi sebaik yang ku upayakan…selebihnya yang berlaku adalah hukumNya, Sunatullah…apapun perubahan yang terjadi tidak akan terlepas dari kerangka rancangan kehendakNya, baik atau buruk, berhasil atau gagal, suka maupun duka.

Akhirnya, fikiranku yang semula kian kemari mencari tempat penampungan, kini sebagian sudah terkumpul disini. dihalaman blog ini. Berupa tulisan yang mungkin isinya aneh dan mungkin rancu tapi biarlah, beginilah adanya. Seharian ini aku ingin istirahat saja dulu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: